19 Tanda Ahlul Bid’ah, Waspadalah…!!

Kami akan sampaikan apa yang telah ditulis oleh Syaikh Dr. Ibroohim bin Muhammad bin ‘Abdillah Al Buraikan dalam kitab beliau: Ta’rif Al Khalaq Bi Manhaj As Salaf, dimana dalam kitab tersebut kita temukan sangat banyak identitas dan karakter para Ahlul Bid’ah, tidak kurang dari 19 macam.

Tanda-Tanda Ahlul Bid’ah tersebut adalah:

1. Ahlul Bid’ah sangat memusuhi, menghina dan menganggap enteng kepada mereka pembawa berita dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Hal itu bisa kita temukan dalam apa yang diriwayatkan oleh Imaam Ash Shoobuuny رحمه الله dalam kitab beliau: ‘Aqiidatussalaf Ashaabul Hadiits.

Kata beliau رحمه الله  , dengan sanadnya dari Ahmad bin Sinaan Al Qaththoon, “Tidak ada di dunia ini seorang pun Mubtadi’ (seorang Ahli Bid’ah), kecuali dia yang membenci Ahlul Hadiits (Pembawa Hadits). Maka jika seseorang melakukan kebid’ahan, akan dicabut rasa lezatnya Hadits dari dirinya. Ciri Ahlul Bid’ah adalah mereka mencela, menghina, dan memusuhi Ahlul Atsar (Ahlul Hadits, Ahlus Sunnah).”

Kalau dari mereka ada yang mengaku Ahlus Sunnah, sebetulnya mereka jahil (tidak tahu / bodoh) terhadap apa itu Ahlus Sunnah. Kita harus secara jujur dan ‘ilmiah menyampaikan ‘ilmu kepada kaum muslimin tentang apa sebenarnya Ahlus Sunnah. Ahlus Sunnah menurut versi Ahlus Sunnah, bukan menurut versi Ahlul Bid’ah.

Ahlus Sunnah menurut mereka Ahlul Bid’ah adalah diantaranya Mujassimah. Maka kalau ada orang mengatakan Mujassimah itu Ahlus Sunnah, maka sebetulnya ia bukan lah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Mujassimah itu adalah menyatakan, meyakini bahwa Allooh سبحانه وتعالى berbentuk jism (fisik). Mereka mengatakan Allooh سبحانه وتعالى punya tangan, punya mata, punya hidung dstnya, dimana mereka mempersamakan Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya. Oleh karena itu, mereka disebut Mujassimah, dan mereka bukanlah termasuk golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Sementara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah meng-imani bahwa Allooh سبحانه وتعالى  itu baik Dzat-Nya maupun sifat-sifat-Nya adalah tidak serupa dengan makhluk-Nya. Karena tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, sehingga Allooh سبحانه وتعالى tidak boleh dianalogikan dengan ciptaan-Nya.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah meyakini sebagaimana yang diberitakan dalam QS. Al Asy Syuroo (42) ayat 11 bahwa Allooh سبحانه وتعالى:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Artinya:

“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…”

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menetapkan bagi Allooh سبحانه وتعالى, apa yang Allooh سبحانه وتعالى  tetapkan untuk diri-Nya, dengan penetapan tanpa tamtsil (tanpa menyerupakan Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya) dan menyucikan tanpa ta’thiil ( mengingkari ).

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menetapkan bagi Allooh سبحانه وتعالى pendengaran, penglihatan, ilmu, kekuasaan, kebersamaan (ma’iyyah), telapak kaki, betis, tangan dan lain-lain dari sifat-sifat yang telah Allooh سبحانه وتعالى sifatkan sendiri untuk diri-Nya dalam Al Qur’an dan melalui lisan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم dengan kaifiyyah yang hanya Allooh سبحانه وتعالى saja lah yang mengetahuinya, sedangkan kita tidak mengetahuinya, karena Allooh سبحانه وتعالى tidak mengkhobarkan kepada kita tentang kaifiyyah-Nya.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Fath (48) ayat 10 :

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

Artinya:

…. Tangan Allooh di atas tangan mereka…”

 

Dan firman Allooh سبحانه وتعالى  dalam QS. Al Qomar (54) ayat 14:

تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا

Artinya:

Yang berlayar dengan pengawasan Kami…”

 

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berbeda dengan Mujassimah, karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak boleh men-tasybiih (menyerupakan) Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk. Sehingga kalau ada orang mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى adalah jism dan fisik dengan mempersamakan Allooh سبحانه وتعالى itu dengan makhluk-Nya, maka ini bukanlah perbuatan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

2. Ciri Ahlul Bid’ah adalah mencela dan menyalahkan Hadits dan Atsar, peninggalan-peninggalan yang diriwayatkan dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan para shohabat beliau.

 

Sikap mereka terhadap Hadits, bukannya mengagungkan, menghormati, mengamalkan atau memperjuangkan demi tegaknya Hadits, tetapi mereka justru malah mencela. Yang mengatakan demikian adalah Imaam Al Barbahaary رحمه الله, dalam kitabnya Sarhussunnah,  kata beliau: “Jika engkau mendengar seseorang mencela peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم atau menolaknya, atau menginginkan selain yang ditinggalkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka jelas ia adalah Ahlul Hawa dan Mubtadi’ (Ahlul Bid’ah).”

Maka bila terdengar dalam masyarakat, ada orang yang kepada Hadits itu sikapnya justru tidak senang, atau sikapnya adalah ingin mengubah, tidak suka, membenci, memusuhi dan sebagainya; maka ketahuilah bahwa orang itu bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, walaupun ia mengaku atau mengatas-namakan dirinya sebagai Ahlus Sunnah. Tetapi sebenarnya ia adalah Ahlul Bid’ah. Itulah yang dikatakan oleh Imaam Al Barbahary رحمه الله dalam kitabnya diatas.

Imaam Al Barbahary رحمه الله wafat pada tahun 329 Hijriyah, berarti perkara ini sudah diperingatkan dari hampir 900 tahun yang lalu.

Lalu dilanjutkan oleh Abu Nadhr bin Salaam Al Faqiih dalam kitab beliau ‘Aqidatus Salaf Ashaabul Hadiits, kata beliau: “Tidak ada sesuatu yang dirasakan paling berat atas orang-orang yang menyeleweng dari Islam, tidak juga ada yang paling mereka benci, melainkan dari mendengarkan Hadits, riwayat Hadits dan Isnad Hadits.”

Maksudnya, jika Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم disampaikan, dibahas maka mereka justru tidak suka dan membenci, maka mereka itu adalah Ahlul Ilhaad.

Ahlul Ilhad adalah orang yang menyeleweng dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan termasuk dari Ilhad (berpaling dari kebenaran) adalah ta’thil (mengabaikan), tahrif (menyimpangkan), takyf (memvisualisasikan) dan tamtsil (menyerupakan) sifat-sifat Allooh, dengan tanpa berpedoman pada apa yang datang dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Padahal, tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allooh سبحانه وتعالى melainkan Allooh سبحانه وتعالى sendiri.

Allooh سبحانه وتعالى  berfirman dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 140:

قُلْ أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ

Artinya:

Katakanlah: ‘Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allooh…’”

Dan tiada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allooh سبحانه وتعالى, setelah Allooh, daripada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم atas izin-Nya. Sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An-Najm (53) ayat 3-4 tentang beliau صلى الله عليه وسلم:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى ﴿٤

Artinya:

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

3. Menamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dengan julukan-julukan yang rusak

Al Imaam Abu Haatim رحمه الله dalam kitab ‘Aqiidatussalaaf, oleh Imaam Ash Shobuny رحمه الله dikatakan: “Ciri dari orang Zanadiqoh (orang-orang zindiq), mereka orang kaafir yang masuk kedalam Islam tetapi berpura-pura, untuk menghancurkan Islam dari dalam. Sebenarnya ia munaafiq. Orang-orang tersebut menamakan Ahlus Sunnah sebagai Hasawiyah.” Yang dimaksudkannya adalah mereka ingin menolak peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Sedangkan Qodariyyah, ciri-cirinya adalah mereka itu menjelek-jelekkan Ahlus Sunnah sebagai Mujbiroh (artinya: orang pesimistis).

Tentang Qodariyyah, contohnya adalah dalam sebuah buku yang ditulis oleh Harun Nasution, dimana buku tersebut sekarang menjadi kurikulum di UIN. Dalam buku tersebut, mereka membuat pernyataan bahwa Ahlus Sunnah membuat mereka menjadi mundur, karena menurut prinsip mereka bahwa Ahlus Sunnah itu selalu pesimis.

Ini mengejutkan. Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak lah seperti yang mereka sebutkan.

Sebenarnya yang pesimis adalah Jabariyyah, bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Jadi ada kekeliruan atau salah menempatkan julukan di dalam buku tersebut. Kesalahan penempatan julukan itu dimungkinkan, karena yang dilihat oleh penulis buku tersebut (Harun Nasution) adalah realitas dalam kehidupannya, dimana notabene dalam masyarakatnya diajarkan tentang pesimistis. Itu sama sekali tidak benar, dan ia pun juga salah dalam menempatkan julukan. Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak berpaham Jabariyyah dan tidak pula berpaham Qodariyyah. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang yang tidak pesimistis sekali, tetapi juga orang yang tidak optimistis sekali. Melainkan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang yang berada ditengah-tengah, diantara keduanya (Ahlul Kasab). Dan itu dibahas panjang lebar diantaranya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله dalam banyak tulisan beliau.

Kata beliau juga: “Tanda dari Jahmiyyah (kelompok dari Jahm bin Sofwaan), adalah mereka mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى tidak mempunyai nama dan tidak mempunyai sifat.” Karena menurut mereka, kalau Allooh سبحانه وتعالى mempunyai nama dan sifat maka berarti Allooh سبحانه وتعالى menjadi seperti makhluk. Agar Allooh سبحانه وتعالى tidak sama dengan makhluk, maka menurut mereka Allooh سبحانه وتعالى semestinya tidak punya nama dan sifat. Dan mereka menuduh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebagai Mutasyaabihah (orang yang mempersamakan Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya), dan pemahaman mereka (kelompok Jahmiyyah) tersebut adalah pemahaman yang keliru, ekstrim dan tidak sesuai dengan dalil.

Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah beriman bahwa Allooh سبحانه وتعالى mempunyai Asmaaul Husna (nama-nama yang baik), dan sifat-sifat yang mulia. Dia lah Allooh سبحانه وتعالى yang memiliki semua sifat yang sempurna dan suci dari segala kekurangan. Dia lah Allooh سبحانه وتعالى yang Maha Esa dengan sifat-sifat tersebut. Perhatikan firman-Nya dalam QS. Al A’roof ayat 180:

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Artinya:

Hanya milik Allooh Asmaaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, seperti yang dikatakan oleh ‘Ulama ‘Abdullooh bin Al Mubaarok رحمه الله, beliau menghukumi kelompok Jahmiyah tersebut sebagai orang kaafir, murtad, keluar dari Islam karena mereka telah kufur terhadap banyak ayat Al Qur’an. Bahkan ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menghukumi kelompok Jahmiyah sebagai orang-orang yang menghamba dan beribadah kepada sesuatu yang tidak ada. Kalau tidak punya nama, tidak punya sifat, berarti tidak ada. Padahal segala sesuatu itu punya nama, walaupun manusia ada yang belum tahu namanya. Karena Allooh سبحانه وتعالى sudah berfirman dalam Al Qur’an bahwa Allooh سبحانه وتعالى  telah mengajarkan kepada Nabi Adam عليه السلام seluruh nama.

Perhatikan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 31:

وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Adapun jika ada orang yang belum tahu nama dari sesuatu, bukan berarti sesuatu itu belum ada namanya.

Sedangkan ciri-ciri dari orang Raafidhoh (Syi’ah) adalah mereka mengatakan bahwa Ahlus Sunnah adalah orang yang menempatkan Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه sebagai Khaliifah, padahal menurut mereka (Syi’ah) semestinya bukan Abu Bakar رضي الله عنه, melainkan menurut mereka yang seharusnya menjadi Khaliifah adalah Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه. Pendapat itu berdasarkan suatu kedengkian, dan pemahaman tersebut adalah tidak benar.

Orang-orang Raafidhoh (Syi’ah) berbeda dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Bila Raafidhoh terjatuh pada mencela dan mengkafirkan para shohabat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, bahkan yang termasuk Khulafaa Ar Roosyidiin seperti Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه, ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه akibat kedengkian mereka; maka sebaliknya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengajarkan untuk mencintai para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم karena para shohabat رضي الله عنهم adalah orang-orang pilihan Alooh سبحانه وتعالى untuk menemani Rosuul-Nya. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah beriman bahwa Alooh سبحانه وتعالى meridhoi para shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sebagaimana yang Alooh سبحانه وتعالى sendiri firmankan dalam QS. At Taubah (9) ayat 100:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allooh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allooh dan Allooh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencaci para shohabatku, janganlah kalian mencaci para shohabatku! Demi Allooh yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya salah seorang diantara kamu menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan mencapai satu mud pun (dari yang mereka infaqkan), tidak sampai pula setengahnya.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6651 dan Imaam Al Bukhoory no: 3673 dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

Sehingga dalam pandangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terhadap orang-orang Raafidhoh : “Kalau saja mereka meyakini suatu keyakinan, yang keyakinan itu dibangun diatas khurofat (karena tidak bersambung kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena semua shohabat beliau mereka kafirkan termasuk Khulafaa Ar Roosyidiin, kecuali beberapa orang saja dari para shohabat), maka mereka sudah kaafir, sehingga mereka tidak berhak lagi untuk didengar riwayatnya.”

Dengan demikian maka seluruh hadits dari mereka (Raafidhoh) akan tidak bisa diriwayatkan dan tidak berhak untuk diyakini isinya, karena mereka telah menunjukkan kufur terhadap Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

4. Ciri Ahlul Bid’ah adalah mencela para shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم

Seperti telah dijelaskan diatas, Raafidhoh (Syi’ah) itu selalu mencela shohabat Rosuul صلى الله عليه وسلم kecuali hanya beberapa orang diantara mereka saja. Maka hendaknya harus berhati-hati didalam membeli buku-buku dien, karena buku-buku Syi’ah tersebut sekarang banyak diterbitkan dan dijual di pasaran.

 

Imaam Al Barbaahary رحمه الله dalam kitab Sarhussunnah berkata: “Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ketahuilah olehmu bahwa orang tersebut telah mengeluarkan perkataan yang buruk dan ia adalah pengikut hawa nafsu.

Dan menurut Imaam Maalik رحمه الله, beliau berkata: “Jika engkau melihat seseorang yang mencela salah seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, ketahuilah bahwa orang tersebut adalah munafiq, zindiq (kaafir tetapi berpura-pura Islam).”

Ada film CD yang telah beredar di tokoh-tokoh tentang kisah ‘Uthbah bin ‘Aamir رضي الله عنه, salah seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Yang dikisahkan dalam film CD itu bukanlah tentang kepahlawanan dan kepiawaian shohabat ‘Uthbah bin Amiir رضي الله عنه, justru diceritakan bahwa ‘Uthbah bin Amiir رضي الله عنه adalah orang yang arogan karena memaksa orang agar orang membayar pajak (istilah dalam film itu adalah ‘pajak’). Padahal ‘Uthbah bin Amiir رضي الله عنه adalah orang yang adil. Demikianlah cara mereka menjelek-jelekkan shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

5. Ciri Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan sholat Jum’at dan sholat berjama’ah di masjid

Mudah-mudahan kita tidak termasuk ciri-ciri tersebut. Sholat Jum’at saja mereka enggan melaksanakannya, apalagi sholat fardhu berjama’ah secara rutin di masjid tentunya mereka lebih enggan lagi. Mereka hanya sholat berjama’ah tahunan saja, yaitu ketika sholat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha.

Yang paling mengenaskan adalah sholat fardhu berjama’ah. Dalam suatu masjid, paling banyak hanyalah satu shaf ketika sholat Shubuh. Lalu dimana jama’ah yang jumlahnya banyak dikala sholat Jum’at dan sholat ‘Ied tersebut? Berarti sebagian besar orang masih suka melaksanakan sholat berjama’ahnya adalah pekanan atau tahunan saja. Padahal sholat pekanan itu ibaratnya seperti orang Nasrhoni, dimana hal itu tidaklah dibenarkan. Maka sekali lagi, hendaknya diingat bahwa meninggalkan sholat Jum’at dan meninggalkan sholat fardhu berjama’ah di masjid tanpa udzur adalah ciri-ciri Ahlul Bid’ah.

Imaam Al Barbahary رحمه الله dalam kitabnya mengatakan bahwa, “Siapa yang meninggalkan sholat Jum’at dan sholat berjama’ah tanpa udzur, maka orang tersebut adalah Mubtadi’ (Ahlul Bid’ah). Tanpa udzur misalnya adalah karena sakit, atau takut dengan penguasa yang dzolim; maka selain daripada itu tidaklah disebut udzur.”

6. Mendo’akan kejelekan terhadap penguasa

Imaam Al Barbahary رحمه الله mengatakan, “Jika engkau melihat seseorang mendo’akan kejelekan bagi penguasa, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah Ahlul Bid’ah.”

7. Duduk bersama Ahlul Bid’ah, setelah tahu bahwa mereka adalah pelaku Bid’ah

Imaam Al Barbahary رحمه الله mengatakan, “Jika ada orang yang duduk bersama Ahlul Bid’ah setelah ia mengetahui bahwa mereka adalah pelaku Bid’ah, maka hindarilah ia karena ia adalah Shoohibul  Hawaa (pengikut hawa nafsu), dalam hal ini adalah Ahlul Bid’ah.”

8. Menyeru untuk memerangi pemimpin kaum muslimin dan menghalalkan darah orang lain

Imaam Al Barbahary رحمه الله mengatakan, “Ketahuilah bahwa hawa nafsu itu semuanya jelek. Karena mereka menyeru / mengajak kepada pedang (pembunuhan). Dan yang paling jelek dan paling kaafir adalah Raafidhoh (Syi’ah), Mu’tazilah dan Jahmiyah. Sebab mereka menginginkan agar manusia melucuti aqidah yang baik dan kembali kepada kemunafiqan.”

9. Menyepelekan hal-hal yang fardhu berkenaan dengan hidup berjama’ah

Kata Imaam Al Barbahary رحمه الله: “Jika engkau melihat seseorang yang menyepelekan hal-hal yang fardhu yang semestinya berlaku dalam suatu jama’ah betapapun bersama penguasa, ketahuilah bahwa orang tersebut adalah pelaku Bid’ah.”

 

10. Menisbatkan sesuatu makalah kepada makalah-makalah yang keluar dari Sunnah (seperti Qodariyyah, Jahmiyyah, Murji’ah, Raafidhoh, dll)

 

Qodariyah adalah golongan yang mengaku dirinya muslim, umat Muhammad صلى الله عليه وسلم, tetapi keyakinan mereka rusak. Karena mereka meyakini bahwa di dunia ini mereka lah yang berwenang mengatur diri mereka sendiri, tanpa ada campur tangan dari Allooh سبحانه وتعالى.

 

Murji’ah adalah golongan orang yang menganggap bahwa amalan itu boleh dikebelakangkan, kata mereka “yang penting kan hatinya…”. Dan yang seperti ini adalah banyak di masyarakat kita. Kalau melihat kemunkaran, mereka membiarkannya saja, tidak mau melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Kata mereka, “Nafsi-nafsi saja lah…”, “Urusan dia adalah urusan dia, kita tidak perlu ribut...”, dan yang senada dengan perkataan-perkataan tersebut.

Padahal sebagaimana kita tahu bahwa kemunkaran itu sudah semestinya diubah.

Shohabat Abu Sa’id Al Khudry رضي الله عنه berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ »

Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu pula maka dengan hatinya; dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 186 dari Abu Sa’iid Al Khudry رضي الله عنه)

Kapan kemunkaran itu akan hilang jika kita tidak mau melakukan tindakan konkrit untuk mengubah kemunkaran tersebut.

Jadi Murji’ah adalah orang yang mengatakan bahwa Iman itu cukup didalam hati saja, bukan dengan lisan dan bukan pula dengan perbuatan. Dan pendapat mereka ini keliru.

Sementara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah senantiasa memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar (amar ma’ruf nahi munkar). Sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Ali ‘Imroon (3) ayat 110:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allooh. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq.”

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mendahulukan dakwah dengan cara yang lembut, baik berupa perintah maupun larangan; dan menyeru dengan hikmah dan pelajaran yang baik.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Nahl (16) ayat 125:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ…

Artinya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”

 

Dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mendahulukan wajibnya bersabar atas semua gangguan manusia dalam amar ma’ruf dan nahi munkar, sebagaimana yang Allooh سبحانه وتعالى firmankan dalam QS. Luqman (31) ayat 17:

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“… Suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allooh).”

 

11. Berwala’ kepada pernyataan yang mereka yakini

Imaam Ibnul Qayyim Al Jauziah رحمه الله mengatakan dalam kitabnya Mukhtashor Ashowaa’iqil  Mursalah : “Ahlul Bid’ah itu loyalitasnya, permusuhannya dibangun diatas pernyataan yang mereka yakini.”

Dengan kata lain bahwa pernyataannya adalah subyektif, bukan berdasarkan dalil, melainkan berdasarkan pemahaman diri mereka sendiri. Dan yang seperti ini adalah tidak benar, dan yang demikian adalah ciri Ahlul Bid’ah.

Sementara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menerima, mengambil dalil dan mengikuti (ittiba’) terhadap dalil yang datang dari Kitabullooh (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم yang shohiih baik secara dzahir maupun bathin, serta berserah diri (tasliim) kepada Sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Ahzaab (33) ayat 36:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً

Artinya:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allooh dan Rosuul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allooh dan Rosuul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Juga Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allooh dan ta’atilah Rosuul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allooh (Al Qur’an) dan Rosuul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allooh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda,

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Aku tinggalkan dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya, yaitu: ‘Kitabullooh’ dan ‘Sunnah Rosuul-Nya’.” (Hadits Riwayat Imaam Maalik dalam kitab Al Muwaththo’ no: 3338, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Misykaatil Mashoobiih)

Jadi Al Qur’an itu bergandengan dengan As Sunnah, karena Allooh سبحانه وتعالى mewajibkan semua hamba-Nya untuk taat kepada Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم, dan As Sunnah menjelaskan makna yang dikehendaki oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam Kitabullooh (Al Qur’an) tersebut.

Setelah itu, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengikuti apa yang ditempuh oleh para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dari kalangan Muhajirin dan Anshor secara umum dan Khulafaa Ar Roosyidiin secara khususnya. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah mewasiatkan kepada ummatnya agar mengikuti para Khulafaa Ar Roosyidiin lalu mengikuti generasi berikutnya, yakni tiga generasi pertama yang dimuliakan (Shohabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in). Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Hendaklah kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para Khulafaa Ar Roosyidiin yang telah mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah padanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan hati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru (dalam urusan dien), karena sesungguhnya segala sesuatu yang baru (dalam urusan dien) adalah Bid’ah dan segala yang Bid’ah adalah sesat.” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4609, dari Al ‘Irbaadh bin Saariyah رضي الله عنه, dishohiihkan oleh Syaikh Al Albaany)

Jadi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merujuk pada pemahaman para shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Dan menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tidak ada sesuatu  apa pun dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohiih itu dipertentangkan dengan qiyas (analogi), perasaan, kasyaf (penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghoib), pendapat syaikh (guru, kyai, Ustadz) maupun imam; karena Dienul Islam telah sempurna semasa hidup Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS Al Maa’idah (5) ayat 3:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً…

Artinya:

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…”

 

Jadi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak mendahulukan ucapan seseorang atas Kalamullooh (Al Qur’an) dan sabda Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم (As Sunnah). Karena mendahului Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya  صلى الله عليه وسلم adalah termasuk mengatakan atas nama Allooh  سبحانه وتعالى tanpa didasari oleh ‘Ilmu, dan itu adalah tipuan syaithoon.

Perhatikan peringatan Allooh سبحانه وتعالى dalam QS Al Hujuroot (49) ayat 1:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allooh dan Rosuul -Nya dan bertakwalah kepada Allooh. Sesungguhnya Allooh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

 

 

Sesudahnya, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merujuk kepada Ijma’ ulama yang mu’tabar dan bertumpu padanya, karena Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

لا يجمع الله أمتي على ضلالة أبدا و يد الله على الجماعة هكذا فاتبعوا السواد الأعظم فإنه من شذ شذ في النار

Sesungguhnya Allooh tidak mengumpulkan ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allooh diatas jama’ah. Barangsiapa yang menyimpang, maka ia akan menyendiri dalam Neraka.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 396 dan Imaam At Turmudzy, dari Ibnu ‘Umar, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)

12. Mendustakan terhadap kebenaran, dan mengkafirkan manusia dan jika ditegakkan kepada mereka hujjah baik itu dari Al Qur’an maupun As Sunnah, maka mereka justru kembali kepada mengisolasi Sunnah dan menghukum orang-orang yang berpegang kepada Sunnah jikalau mereka itu berkuasa.

Hal ini sebagaimana tercantum dalam QS. Al Isroo’ (17) ayat 46:

وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْراً وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْاْ عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُوراً

Artinya:

“… dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.”

Maka jika di masyarakat terdapat arogansi seperti itu, tidak memberikan kebebasan kepada orang-orang yang jelas-jelas mempunyai argumentasi dari firman Allooh سبحانه وتعالى dan Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka itu adalah identitas dari Ahlul Bid’ah.

13. Mengambil Sunnah hanya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Seperti terdapat dalam QS. Az Zumar ayat 45:

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

Artinya:

Dan apabila hanya nama Allooh saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allooh yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.”

Jadi diantara ciri-ciri Ahlul Bid’ah adalah mengambil Sunnah hanya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, baik yang shohiih maupun yang dho’iif. Kata mereka, biarpun dho’iif, tetapi itu kan Hadits. Itu termasuk ciri-ciri Ahlul Bid’ah. Dan mereka meninggalkan hadits-hadits yang shohiih karena tidak sesuai dengan selera mereka.

14. Meninggalkan apa yang terdapat dalam nash terhadap pernyataan orang.

Padahal, yang seharusnya dijadikan dalil adalah nash Al Qur’an maupun Sunnah, tetapi Ahlul Bid’ah ini justru menjadikan pernyataan/ perkataan orang sebagai dalil.

Berbeda dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang mempunyai pemahaman bahwa: Perkataan orang, siapa pun dia, tidak bisa dijadikan dalil, kalau ia bukan dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Imaam Maalik رحمه الله menyatakan:

كل يؤخذ من قوله ويرد إلا صاحب هذا القبر . وأشار إلى قبر النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

Artinya:

Setiap perkataan boleh diambil dan boleh ditolak kecuali jika berasal dari yang ada dalam kuburan ini.” Sembari beliau mengisyaratkan pada kuburan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Jadi, setiap orang boleh kita ambil perkataannya dan boleh kita tolak, tidak ada hak untuk memaksa seseorang mengambil apa yang ia katakan; asal saja itu bukan Hadits atau Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang shohiih.

Kalau sudah jelas itu bersumber dari Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم, maka tidak boleh ada orang yang memilah dan memilih. Harus diambil, karena itu adalah Wahyu dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Kalau meninggalkannya berarti ingkar terhadap Sunnah Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم.

Ibnu Qoyyim al Jauziyah رحمه الله mengatakan dalam kitabnya: “Ahlul Bid’ah meninggalkan nash-nash Al Qur’an dan Sunnah, hanya sekedar untuk menjadikan perkataan orang sebagai dalil dan argumen, kemudian Al Qur’an dan As Sunnah dikebelakangkan.”

15. Menolak Sunnah, membenturkan Sunnah kepada pernyataan dan pendapat orang.

Ciri-ciri Ahlul Bid’ah adalah menolak Sunnah dan membenturkan Sunnah dengan pernyataan dan pendapat orang. Kalau sesuai dengan pendapat mereka, maka mereka terima. Dan jika tidak sesuai dengan pendapat mereka, maka mereka tolak. Penolakan itu adalah dengan meninggalkannya atau dengan cara men-ta’wil-kan Al Qur’an dan Sunnah tersebut.

Penyimpangan dalam aqidah bisa muncul dari berbagai hal, sehingga muncullah paham Mu’tazilah, yang mendahulukan akal daripada Wahyu (Al Qur’an dan Sunnah).

Demikian pula dengan orang Sufi, yang mendahulukan mimpi dan rasa daripada Wahyu (Al Qur’an dan Sunnah). Sehingga sebagai contoh, pernah muncul beberapa tahun yang lalu dengan apa yang disebut “Auraad Muhammadiyah”. Yang mengalami mimpi adalah Ashari Muhammad, tokoh Al Arqom di Malaysia. Menurut mereka, membaca dan mewiridkan Auraad adalah bagian dari ibadah. Dan itu bukanlah dalil, karena hanya berasal dari mimpi.

Juga dalam masyarakat yang sangat yakin dengan kata-kata kyai / ajeungan. Menurut mereka, tidak mungkin ajeungan itu salah. Mereka menganggap ajeungan itu ma’shum dan Al Qur’an maupun Sunnah mereka kebelakangkan. Sesungguhnya pemahaman mereka itu keliru dan sesat, dan mereka telah menyimpang dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Sementara, Ahlu Sunnah Wal Jama’ah tidak meyakini adanya orang yang ma’shum (terjaga dari dosa dan kesalahan) selain Rosuulullooh  لى الله عليه وسلم, dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berpendapat bahwa seseorang itu boleh ber-ijtihad dalam permasalahan yang tersembunyi (samar) sebatas kebutuhan darurot. Meskipun demikian, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidaklah fanatik terhadap pendapat seseorang, sehingga pendapat tersebut berkesesuaian dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka berkeyakinan bahwa setiap mujtahid bisa benar dan bisa salah. Jika benar maka baginya dua pahala yaitu pahala ijtihad dan pahala kebenaran ijtihad-nya. Dan jika salah, maka baginya satu pahala yakni pahala ijtihad-nya saja. Sehingga hal ini tidak mengharuskan terjadinya permusuhan dan saling menjauhi, akan tetapi satu sama lain saling mencintai, walaupun ada perbedaan diantara mereka pada sebagian permasalahan Furu’ (cabang, dan bukan pada masalah yang Pokok). Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak mewajibkan seseorang dari kaum Muslimin untuk taklid pada madzhab fiqih tertentu, namun tidaklah mengapa jika atas dasar ittiba’ (mengikuti) dalil yang Syar’i. Karena itu, setiap muslim hendaknya berpindah dari madzhab yang satu ke madzhab yang lain karena mengikuti dalil yang kuat. Karena, bagi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mereka ikuti itu sebenarnya adalah dalilnya (yang datang dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) dan bukan madzhab-nya.

16. Ahlul Bid’ah mengajak dan menyeru untuk menjadikan pendapat orang dan apa yang masuk kedalam akal mereka sebagai pemutus perkara.

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa akal dan pendapat mereka layak menjadi pemutus perkara atas problem atau permasalahan di muka bumi ini; maka ketahuilah bahwa mereka bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, melainkan Ahlul Bid’ah.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selalu mengatakan bahwa yang disebut dalil adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau bukan berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah maka bukanlah dali. Lalu bagaimana dengan Qiyas? Qiyas adalah juga dalil, tetapi pada urutan ke-empat; dan itu pun dalam masalah tertentu (masalah Khilaafiyah / Furu’ / cabang) dan bukan dalam masalah Pokok (‘Aqidah). Tidak ada Qiyas dalam urusan ‘Aqidah. Sedangkan dalil urutan ke-tiga adalah Ijma’ ush Shohaabah (Ijma’ Shohabat). Ada dalil yang mendukungnya seperti misalnya: Al Aql, Al His dan Al fitroh. Dan ketiganya merupakan pendukung saj, dalam arti: Jika ia memperkuat dalil Al Qur’an dan As Sunnah, maka pembuktian penguatannya diterima. Tetapi, jika tidak memperkuat dalil Al Qur’an dan As Sunnah, maka tidak diterima karena bertentangan dengan dalil.

17. Ahlul Bid’ah lari dari da’wah yang menyeru pada Sunnah

Kalau mereka disuruh kepada Sunnah, maka mereka enggan dan lari daripadanya. Hal ini sudah dijelaskan dalam QS. Al Isroo’ ayat 46 dan QS. Az Zumar ayat 45, sebagaimana telah dibahas pada poin 12 dan 13 diatas.

18. Mereka mengatakan perkataan-perkataan yang Bid’ah, yang tidak pernah Allooh سبحانه وتعالى turunkan.

Mereka mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى tidak mempunyai nama dan tidak mempunyai sifat. Jelas ini adalah Bid’ah.

Ada pula sebagian orang yang berkata-kata seperti ini: “..Mungkin Tuhan mulai bosan..”, maka itu adalah kata-kata Bid’ah. Tuhan dalam kata-kata itu maksudnya siapa? Kalau Tuhan adalah Allooh سبحانه وتعالى, berarti mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى bosan, dan bosan itu adalah negatif. Mustahil Allooh سبحانه وتعالى mempunyai sifat bosan.

Lalu mereka juga mengatakan, “Pendengaran Allooh sama dengan pendengaran kita,” jelas ini adalah pernyataan yang keliru, karena bertentangan dengan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Asy Syuroo (42) ayat 11:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Artinya:

“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…”

 

Pernyataan-pernyataan yang menyimpang itu disebabkan oleh kejahilan mereka, dan yang seperti itu adalah tidak boleh. Hal ini telah dibahas dalam Tauhid Al Asma Wash Shifaat.

 

19. Perpecahan dan Perselisihan

Diantara ciri Ahlul Bid’ah adalah Perpecahan dan Perselisihan. Jadi kalau banyak muncul perpecahan dan perselisihan, maka bisa jadi bukan lah tergolong Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tetapi masih Ahlul Bid’ah.

Perhatikan pernyataan Al Imaam Abul Qoosim Al Assahaany رحمه الله yang dinukil dari kitab beliau : “Adapun jika engkau perhatikan Ahlul Hawa dan Ahlul Bid’ah, maka akan engkau dapati mereka berpecah-belah, berselisih, berkelompok-kelompok, ber-hism (bergolongan/ berpartai) sehingga hampir-hampir saja engkau tidak temui ada dua orang dimana dua orang itu berjalan diatas satu jalan, baik itu dalam masalah Aqidah maupun dalam masalah lainnya. Justru satu sama lain saling mem-Bid’ahkan, bahkan sampai mengkafirkan satu sama lainnya. Engkau lihat mereka selamanya dalam keadaan perselisihan, kebencian, perpecahan dan habis umur mereka dalam keadaan tidak bersatu. Karena mereka bukanlah kaum yang berakal.”

Demikianlah tanda-tanda dan ciri-ciri serta karakter-karakter dari Ahlul Bid’ah, mudah-mudahan kita bisa mengetahuinya dan kita bisa mewaspadai; karena mereka bukannya mendekat kepada Sunnah, melainkan menjauhi Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

 

Dikutip dari artikel: Tanda-Tanda Ahlul Bid’ah

Penulis:ust. Achmad Rofi’i Lc

Sumber url: ustadzrofii.wordpress.com

Bid’ahnya Mihrab

Penulis: Al Ustadz Muhammad Ali Ishmah Al Medani

Muqaddimah

Yang namanya bid’ah memang tidak pandang bulu. Banyak sudah yang menjadi korbannya, besar atau kecil, miskin atau kaya, kurus atau gemuk, dan lain sebagainya. Bid’ah memang bahaya karena pelakunya menganggapnya baik. Berbeda dengan para pelaku maksiat karena mereka mengetahui bahwa perbuatannya itu dosa.

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah meyakini bahwa iblis lebih mencintai ahli bid’ah daripada pelaku maksiat. Penyebabnya apa? Seperti yang telah diutarakan tadi, penyebabnya yaitu pelakunya menganggap hal tersebut adalah baik. Jadi, seorang Muslim yang berzina lebih baik daripada seorang ulama yang ahli bid’ah. Karena apa? Karena Muslim tadi mengakui bahwa yang ia lakukan adalah dosa. Berbeda dengan ulama ahli bid’ah tadi. Ia malah menganggap hal tersebut adalah baik. Dengan demikian, pada hakikatnya ia telah menganggap Allah dan Rasul-Nya belum menyempurnakan agama ini hingga ia perlu menambah-nambahnya.

Nah, pada kesempatan kali ini, kita akan membahas salah satu bid’ah yang biasa terjadi di masjid-masjid, yaitu Bid’ahnya Mihrab.

Syubhat-Syubhat Dan Bantahannya

Orang-orang yang membantah pernyataan bahwa mihrab adalah bid’ah biasanya mengandalkan dalil sebagai berikut:

1.Bahwa hadits yang menyatakan larangan membuat mihrab di masjid adalah dlaif, yaitu hadits berikut :

Dari Musa Al Juhani berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Ummatku/umat ini selalu berada di dalam kebaikan selama mereka tidak menjadikan di dalam masjid-masjid mereka seperti mihrab-mihrabnya orang-orang kristen.” (HR. Ibnu Abi Syaibah di dalam Al Mushannaf)

2.Dan bukankah ada contoh dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa beliau masuk ke dalam mihrab dan berdoa seperti di dalam hadits ini :

Dari Wa’il bin Hujr radliyallahu ‘anhu berkata, aku menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika bangkit menuju masjid maka beliau masuk ke mihrab. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir. Kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya.” (HR. Baihaqi)

Bukankah hadits ini menunjukkan bahwa beliau masuk ke dalam mihrab, bahkan beliau shalat di situ dan tidak menyatakan ini bid’ah? Atau mengingkari hal tersebut?

3.Bukankah di sini berlaku istilah Mashalihul Mursalah seperti tanda untuk arah kiblat?

Baiklah, sebenarnya pada permasalahan ini sebelumnya sudah ada yang berpendapat seperti itu, yaitu Al Kautsari, dia adalah seorang ahli di dalam masalah hadits. Akan tetapi dia terbawa fanatisme (ta’ashshub) terhadap madzhabnya, yaitu Hanafi dan termasuk pembawa bendera atau panji pemahaman Jahm bin Shafwan (menolak adanya sifat Allah). Pendapat tersebut telah dibantah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Sekarang permasalahan hadits dan jawaban itu kita serahkan kepada Syaikh untuk dijawab. Mari kita baca dari kitab beliau, Silsilah Al Hadits Adl Dla’ifah wal Maudlu’ah juz 1 halaman 446.

Setelah membawakan hadits pertama tadi (yaitu hadits dari Musa Al Juhani), Syaikh berkata, hadits ini adalah dlaif, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al Mushannaf juz 1/107/1 :

Waqi’ telah berkata kepada kami, ia berkata, Abu Israil bercerita kepada kami dari Musa Al Juhany, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : … .

Komentarku (Al Albani) : Ini adalah sanad yang dlaif. Padanya ada dua ‘illat (penyakit) yaitu :

Pertama, I’dhal/Mu’dhal. Karena Musa Al Juhani, yakni Abu Abdillah hanya meriwayatkan dari shahabat melalui perantara para tabi’in seperti Abdurrahman bin Abi Laila, Sya’bi, Mujahid, Nafi’, dan lain-lainnya. Sedangkan ia (Musa Al Juhani) adalah seorang tabi’ut tabi’in. As Suyuthi mengatakan dalam I’lamul Ariib bi Hudutsi Bid’atil Mahaarib halaman 30 bahwa hadits ini adalah mursal. Sebenarnya pernyataan ini kurang tepat karena mursal menurut istilah para Muhadditsin (ulama Ahli Hadits) adalah ucapan tabi’in yang langsung menyebut sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tanpa menyebutkan nama shahabat. Sedangkan ia (Musa Al Juhani) adalah seorang tabi’ut tabi’in.

Kedua, dlaif (lemahnya) Abu Israil yang nama aslinya adalah Ismail bin Khalifah Al ‘Absi. Al Hafidh mengomentari orang ini dalam At Taqrib :

“Orangnya jujur tapi jelek dari segi hafalannya.”

Yang demikian ini terdapat dalam naskah Al Mushannaf kami yang masih berbentuk makhthuthath (manuskrip/tulisan tangan). Sedangkan yang terdapat dalam nukilan As Suyuthi dari Mushannaf dalam kitabnya, Al I’lam :

“Dia adalah Israil, yakni Israil bin Yunus bin Abi Ishaq As Sabi’i. Ia adalah tsiqah yang termasuk dalam Thabaqat Abu Israil. Mereka berdua termasuk guru-guru Waqi’ (seorang tabi’in).”

Aku sama sekali tidak bisa mencari yang lebih shahih dari dua naskah tersebut (Abu Israil atau Israil). Dan jika yang lebih benar adalah pendapat yang pertama (Abu Israil) maka naskah yang ada pada kamilah yang bagus karena asal naskah kami adalah dari tahun 735 Hijriyah. Berdasarkan apa yang diterangkan oleh As Suyuthi maka ia mengatakan :

 “Ini adalah mursal, shahihul isnad!”

Engkau sudah tahu bahwa hadits ini mu’dhal. Inipun jika selamat dari Abu Israil. Aku (Albani) tidak menganggap ini adalah selamat karena telah rajih bagiku bahwa ini adalah riwayatnya. Setelah aku memperhatikan naskah Mushannaf 1/177/1 yang lainnya maka aku dapati naskah ini sesuai dengan naskah yang pertama. Berdasarkan inilah maka sanad ini adalah dlaif dan mu’dhal.

Adapun yang dimaksud :

Dalam hadits ini adalah mihrab sebagaimana diterangkan dalam Lisanul ‘Arab dan yang lainnya. Seperti ketika menafsirkan hadits Ibnu Umar secara marfu’ dengan lafadh :

“Takutlah kalian kepada

 ini, yaitu mihrab-mihrab.”

 Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi 2/439 dan selain beliau dengan sanad yang hasan. As Suyuthi berkata dalam risalahnya, Al I’lam halaman 21 :

“Hadits ini tsabit (kokoh).”

Beliau berhujjah serta berargumen dengan hadits ini tentang pelarangan membuat mihrab-mihrab di masjid-masjid. Dan padanya ada permasalah yang telah aku terangkan dalam Tsimarul Mustathab fii Fiqhis Sunnati wal Kitab yang kesimpulannya bahwa yang dimaksud adalah bagian depan masjid sebagaimana yang ditetapkan oleh Al Manawi dalam Al Faidh.

Kemudian As Suyuthi mengatakan dalam risalahnya tadi bahwa mihrab di masjid adalah bid’ah. Pendapatnya ini disepakati oleh Syaikh Ali Al Qari dalam Murqathul Mafatih 1/474 dan lain- lainnya. Dan ini –yang kumaksud adalah kebid’ahannya– tidak perlu bersandar dengan hadits mu’dhal tadi. Walau hadits ini jelas-jelas menerangkan tentang larangannya namun kita tidak perlu berhujjah dengan hadits yang tidak tetap dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam akan tetapi kita berhujjah dengan yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dari Ibnu Mas’ud bahwa :

“Beliau membenci shalat di mihrab.”

Beliau mengatakan : “Itu hanya untuk gereja-gereja maka kalian jangan bertasyabuh (meniru) ahli kitab.”

Yakni beliau membenci shalat di dalam mihrab. Al Haitsami 2/51 berkata : “Rijal hadits ini adalah tsiqat.”

Aku (Albani) berkata, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Ibrahim, ia berkata Abdullah (Ibnu Mas’ud, pent.) berkata : “Takutlah kalian terhadap mihrab-mihrab ini.” Dan Ibrahim tidak shalat di situ.

Aku berkata : Ini shahih dari Ibnu Mas’ud, adapun Ibrahim, dia adalah Ibnu Yazid An Nakha’i, walau ia tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud. Maka tampaknya secara dhahir ini adalah mursal. Akan tetapi segolongan para imam menshahihkan hadits-haditsnya yang mursal. Al Baihaqi mengkhususkan kemursalan Ibrahim dari Ibnu Mas’ud. Mengapa demikian?

Aku berkata, pengecualian bagi Ibrahim ini adalah benar. Berdasarkan yang diriwayatkan oleh A’masy, ia berkata, aku bertanya kepada Ibrahim ketika ia menyambungkan riwayat langsung kepada Ibnu Mas’ud maka ia berkata :

 “Bila aku mengabarkan suatu hadits kepada kalian dari seseorang dari Ibnu Mas’ud maka hadits tersebut memang aku dengar sendiri (dari orang tersebut). Dan jika aku langsung berkata dari Ibnu Mas’ud maka hadits tersebut aku dengar bukan dari satu orang saja!”

(Al Hafidh memutlakkannya seperti ini di dalam At Tahdzib. Akan tetapi At Thahawi me-maushul- kannya (1/133) dan juga Ibnu Sa’ad di dalam At Thabaqat 6/272. Dan juga Abu Zur’ah di dalam Tarikh Dimasyq 2/121 dengan sanad yang shahih).

Aku berkata (Al Albani), di dalam atsar ini, Ibrahim berkata dari Ibnu Mas’ud. Maka berarti ia telah menerimanya dari jalan yang banyak. Dan mereka adalah para shahabat Ibnu Mas’ud. Maka — ketika itu– jiwa pun menjadi tenang dengan hadits mereka karena mereka banyak. Walaupun mereka tidak diketahui karena mayoritas para tabi’in adalah jujur. Dan khususnya shahabat- shahabat Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu.

 Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Salim bin Abul Ja’d, ia berkata :

 “Janganlah kalian membuat mihrab-mihrab di dalam masjid-masjid.”

 Dan sanadnya adalah shahih. Kemudian beliau (Ibnu Abi Syaibah) meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Musa bin Ubaidah ia berkata :

 “Aku melihat masjid Abu Dzaar maka aku tidak melihat di situ ada mihrab.”

 Dan dari Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan atsar-atsar yang banyak dari para Salaf tentang makruhnya membuat mihrab di dalam masjid. Dan yang kita nukil di sini kiranya sudah cukup.

 Adapun pernyataan Al Kautsari dalam ucapannya di dalam risalah Imam Suyuthi tadi (halaman 18) yaitu bahwasanya mihrab adalah memang ada di masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka pendapat itu menyelisihi atsar-atsar yang pasti bagi orang yang menelitinya bahwa mihrab adalah bid’ah. Oleh karena itu sudah tentu pernyataannya itu menentang pernyataan para pakar hadits sebagaimana yang telah lalu. Pegangannya dalam masalah tersebut adalah hadits yang tidak shahih. Maka kita harus membicarakannya dengan tujuan membongkar syubhat-syubhat (kerancuan-kerancuan) yang dilancarkan oleh Al Kautsari. Dan itu adalah hadits Wa’il bin Hujr :

 “Aku menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika bangkit menuju masjid maka beliau masuk ke mihrab Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sambil bertakbir kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya.”

 Saya (Al Albani) menyatakan, hadits ini adalah dlaif. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi 2/30 dari Muhammad bin Hujr Al Hadhrami bahwa kami telah diberitahu oleh Sa’id bin Abdil Jabbar bin Wail dan ada tambahan baginya. Diriwayatkan pula oleh Thabrani dalam Al Kabir sebagaimana dalam Al Majma 1/232, 2/134-135 dan beliau berkata : “Di dalamnya ada Sa’id bin Abdul Jabbar.” An Nasa’i berkata bahwa dia laisa bi qawi (tidak kuat hafalannya).

 Ibnu Hibban menyebut dalam Ats Tsiqat : “Muhammad bin Hujr adalah dlaif (lemah).” Dan beliau berkata di dalam tempat yang lain : “Di dalamnya ada Muhammad bin Hujr.” Imam Bukhari berkata : “Padanya ada sebagian kritikan.” Imam Dzahabi berkata : “Hadits-haditsnya mungkar.”

 Aku berkata (Al Albani), At Turkamani berkata seperti itu di dalam Al Jauhar An Naqi’ dan menambahkan : “Dan ibunya Abdul Jabbar adalah Ummu Yahya, aku tidak mengetahui keadaannya (asal-usulnya) dan tidak tahu siapa namanya.”

 Maka jelas dari ucapan para ulama di sini bahwa dalam sanad ini ada 3 ‘illat (penyakit/cacat) yaitu pada :

 1.Muhammad bin Hujr

 2.Sa’id bin Abdul Jabbar

3.Ibunya Abdul Jabbar

 Dengan demikian sebagian dari talbis (pengkaburan) yang dilakukan oleh Al Kautsari adalah ia pura-pura diam dari dua ‘illat yang pertama tadi. Dan berusaha menimbulkan keraguan di kalangan pembaca bahwa hadits tersebut tidak ada ‘illatnya kecuali yang ketiga (yaitu ibunya Abdul Jabbar). Dan bersamaan dengan itu ia membela dengan ucapannya : “Tidak menyebutkan ibunya si Abdul Jabbar bisa mengakibatkan bahaya. Karena ia tidak menyendiri dari jumhur para rawi wanita. Adz Dzahabi berkata tentang mereka : ‘Dan aku tidak mengetahui pada wanita- wanita itu ada yang tertuduh dan juga yang meninggalkannya.’”

 Aku (Al Albani) berkata, makna ucapan Adz Dzahabi tidaklah seperti itu karena hadits-hadits mereka (para wanita) adalah lemah. Akan tetapi kelemahannya tidaklah terlalu parah. Maka pembelaan Al Kautsari adalah lemah. Terlebih lagi setelah kita tunjukkan dua ‘illat tadi.

 Ada juga yang lain memberi muqaddimah risalah (As Suyuthi) ini dan memberi ta’liq (komentar) yaitu Abdullah Muhammad As Shadiq Al Ghumari. Dia mengambil sikap di tengah-tengah (netral) dalam hadits ini walaupun ia menyetujui Al Kautsari dalam penghasanan hadits mihrab tadi. Dia menerangkan tentang kedlaifan hadits ini dan berkata (halaman 20) yang seakan-akan ia membantah Al Kautsari. Aku perhatikan secara pasti terhadap ucapannya :

 “Dan yang benar bahwa hadits ini adalah dlaif disebabkan kemajhulan ibunya si Abdul Jabbar dan juga karena Muhammad bin Hujr bin Abdil Jabbar memiliki hadits-hadits yang mungkar sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Adz Dzahabi. Dan karena telah tetap kedlaifannya maka wajib mentakwilkannya dengan mentakwilkan mihrab yang di dalam hadits tersebut adalah mushalla (tempat shalat). Karena secara pasti telah terbukti bahwa masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak memiliki mihrab. Oleh karena itulah pengarang (As Suyuthi) dan Al Hafizh Adam As Sayyid As Samhudi menetapkan kebid’ahannya.”

 Aku berkata, dan apa-apa yang disampaikan olehnya dengan pentakwilannya itulah yang dikehendaki dari hadits ini secara qath’i (pasti) karena telah tetap dengan adanya tambahan dari Al Bazzar yaitu tempat mihrab. Karena dia telah mengatakan bahwa mihrab memang tidak ada pada jaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Oleh sebab itulh rawi mentakwilkannya dengan tempat mihrab.

 Dari sini jelas bagi pembaca yang adil tentang gugurnya pegangan Al Kautsari dengan hadits ini secara sanad dan makna. Maka tidak bermanfaat syahid (pendukung) yang disebutnya dari riwayat Abdul Muhaimin bin Abbas pada Thabrani dari hadits Sahl bin Sa’d radliyallahu ‘anhu. Dan dalam hadits tersebut ada tambahan : “Maka ketika dibangun bagi beliau sebuah mihrab, beliau masuk ke sana … .”

 Maka lafadz dibangun bagi beliau sebuah mihrab adalah munkar karena Abdul Muhaimin menyendiri dalam meriwayatkan lafadz ini. Dan selain itu juga dia telah didhaifkan bukan oleh seorang ulama Ahli Hadits saja sebagaimana perkiraan Al Kautsari. Dan keadaannya sebenarnya adalah lebih parah dari itu. Imam Bukhari mengomentari tentangnya dengan ucapannya : “Dia adalah munkarul hadits.” Dan Imam Nasa’i mengatakan tentangnya dengan : “Dia tidak tsiqah.”

 Dengan begitu ia sangat parah kelemahannya, tidak bisa dijadikan syahid (pendukung) sebagaimana hal itu telah diterangkan dalam kitab-kitab Mushthalahul Hadits. Dan inipun kalau- kalau hadits tersebut lafadznya sesuai dengan lafadz hadits Wa’il. Maka bagaimana hal itu terjadi sedangkan keduanya tidak sesuai (lafadznya) sebagaimana yang telah saya terangkan tadi?

 Adapun penghasanan Al Kautsari dan yang selainnya terhadap hadits mihrab ini dengan alasan di dalamnya ada Maslahatul Mursalah yaitu sebagai tanda kiblat maka alasan seperti ini adalah lemah ditinjau dari beberapa segi :

 Pertama : Bahwa mayoritas masjid sudah ada mimbarnya. Dan ini sudah cukup sebagai tanda. Maka ketika itu tidak perlu lagi bagi kita untuk membuat mihrab di dalamnya (masjid). Dan seharusnya itulah yang harus disepakati antara dua perselisihan dalam masalah ini kalau saja mereka mau melakukan inshaf (keadilan)! Dan tidak perlu lagi mereka berusaha mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatan orang banyak dengan maksud untuk mencari keridhaan mereka (karena keridhaan orang banyak adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai, pent.)!

 Kedua : Bahwa yang disyariatkan karena keperluan dan maslahat. Maka seharusnya seseorang itu berhenti bila hal itu telah terpenuhi dan tidak menambahnya lagi. Jika tujuan mihrab di masjid adalah hanya sebagai arah kiblat saja maka itu sudah cukup dengan mihrab yang kecil yang dilekuk sedikit saja. Akan tetapi kita lihat mayoritas mihrab-mihrab yang ada di masjid-masjid adalah besar-besar dan luas serta lebar sampai-sampai imamnya sampai tertutup di situ dan tidak tampak (oleh makmum). Akhirnya, mihrab-mihrab tersebut menjadi sebagai hiasan saja dan diberi ukiran-ukiran yang akibatnya juga adalah melalaikan kekhusukan orang yang shalat dan mengalihkan perhatian mereka dalam shalat mereka dan berakibat mereka sibuk memikirkannya dan hal itu adalah terlarang secara qath’i (pasti).

 Ketiga : Bahwa bila sudah jelas bahwa mihrab adalah adat kebiasaan orang kristen di dalam gereja-gereja maka ketika itu haruslah meninggalkan mihrab secara keseluruhan. Dan menukarnya dengan yang lain yang dibolehkan menurut syariat seperti meletakkan tiang ditempat imam karena ini ada asalnya dari sunnah. Imam Ath Thabari mengeluarkan dalam Al Kabir 1/89/2 dari dua jalan yaitu dari Abdullah bin Musa At Taimi, dari Usamah bin Zaid, dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib, dari Jabir bin Usamah Al Juhaini, ia mengatakan :

 Aku bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya di pasar maka aku bertanya kepada mereka : “Mau ke mana beliau?” Mereka menjawab : “Menggaris/memberi tanda untuk masjid kaummu!” Maka akupun pulang kembali. Ternyata di sana ada satu kaum yang sedang bekerja. Aku bertanya kepada mereka : “Ada apa?” Mereka menjawab : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membuat garis untuk masjid kita. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menancapkan kayu di arah kiblat dan menegakkannya di situ.”

 Saya (Al Albani) mengatakan, sanad hadits ini hasan, semua rawi-rawinya adalah tsiqat dan ma’ruf (dikenal) dalam rijalnya At Tahdzib. Tapi luput nama salah seorang mereka dari Al Haitsami dalam Al Mujma’ 2/15. Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Al Ausath dan Al Kabir : “Dan di dalam hadits tersebut ada seseorang yang bernama Mu’awiyah bin Abdullah bin Habib sedangkan aku tidak mendapatkan biografi tentangnya.” Dia adalah Mu’adz bukan Mu’awiyah. Dan Ibnu Khubaib bukan Habib. Berdasarkan pembenaran yang diriwayatkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 1/220 dari riwayat Bukhari dalam Tarikh-nya dan juga oleh Ibnu Abi Ashim dan Ath Thabrani. Dan pembenaran ini luput dari penta’liq (komentator) risalah Imam As Suyuthi yaitu Al Ghumari. Ia (Al Ghumari) menukil ucapan Al Haitsami dalam penulisan hadits Mu’awiyah bin Abdullah dan ia malah menyetujuinya.

 Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa mihrab dalam masjid adalah bid’ah. Dan tidak dibenarkan membuatnya dengan maksud untuk kemaslahatan selama hal-hal yang disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam selainnya dapat menggantikan maksud itu dengan mudah dan jauh dari sifat menghias-hiasi masjid. (Silsilah Al Ahadits Adh Dhaifah wal Maudhu’ah 1/639-697 hadits nomor 448-449)

 Keterangan Dari Ulama Ahlus Sunnah

 Sekian penjelasan dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, sekarang kita beralih kepada pernyataan Syaikh Abu Bakar Ath Thurtusi yang mana beliau mengatakan di dalam kitabnya Al Hawadits wal Bida’ dengan ta’liq dan tahqiq dari Syaikh Ali Hasan halaman 103 beliau mengatakan : “Dan termasuk bid’ah-bid’ah yang terjadi di dalam masjid adalah adanya mihrab- mihrab.”

 Abdur Razzak meriwayatkan dalam Mushannaf-nya nomor 3901, ia mengatakan di sana, Al Hasan datang kepada Tsabit Al Bannani dengan tujuan ingin berziarah kepadanya maka ketika waktu shalat telah masuk ia mengatakan kepada Al Hasan : “Majulah engkau (untuk menjadi imam, pent.) wahai Abu Sa’id (kunyah bagi Al Hasan, pent.).” Maka Al Hasan mengatakan : “Bahkan engkaulah yang maju ke depan, wahai Tsabit!” Maka Tsabit mengatakan lagi : “Demi Allah, aku tidak mau mendahuluimu selama-lamanya!” Maka majulah Al Hasan, akan tetapi ia menghindar dari mihrab (yaitu tidak mau shalat di tempat itu). Adh Dhahhak bin Muzahim mengatakan : “Yang pertama mengarah kepada syirik pada orang-orang yang shalat adalah mihrab-mihrab ini!” (Riwayat Abdurrazzaq 3902)

 Yang mau shalat di mihrab adalah Sa’id bin Jubair dan Ma’mar. (Kita berbaik sangka, barangkali belum datang kepada mereka dalil-dalilnya). Tapi ada pula ulama (tabi’in) yang tidak mau shalat di mihrab seperti An Nakha’i, Sufyan Ats Tsauri, dan Ibrahim At Taimi (dan ditambah dengan yang diterangkan oleh Syaikh Al Albani tadi, pent.)

 DR. Muhammad Al Qasimi mengatakan bahwa Imam Jalaluddin As Suyuthi memiliki sebuah risalah berbentuk tulisan tangan yang berjudul I’lamul Aryab bi Hudutsi Bid’atil Maharib, beliau mengatakan dalam risalahnya tadi : “Ini adalah sebuah bagian yang aku namakan dengan I’lamul Arub bi Hudutsi Bid’atil Maharib karena ada sebuah kaum yang luput dari pengetahuan mereka bahwa mihrab di dalam masjid adalah bid’ah. Dan mereka mengira bahwa mihrab itu memang ada di masjid Nabi di masa beliau. Padahal sama sekali di masanya tidak ada mihrab. Juga tidak di masa para Khalifah yang empat serta orang-orang yang setelah mereka sampai 100 tahun pertama. Akan tetapi apakah mihrab boleh di masa kita ini? Jawabannya adalah tidak! Bahkan merupakan salah satu dari bid’ah-bid’ah yang begitu banyak terjadi. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak membuat mihrab di masjid beliau dan juga tidak dilakukan di masa para shahabat sesudah beliau. Ini hanya terjadi setelah berlalunya generasi terbaik dari umat ini.” (Al Masajid Bainal Ittiba’ alal Ibtida’ halaman 51)

 Ada juga kita dengar alasan dari orang-orang yang masih menolak kekuatan hujjah ini dengan alasan bahwa Maryam juga berada di dalam mihrab? Bukankah ada dalam istilah ushul fiqh syara’a man qablana (syariat orang sebelum kita)? Maka kepada orang ini kita jawab : “Memang benar di dalam ushul fiqh ada istilah tersebut seperti puasa misalnya. Akan tetapi di sini harus kita luruskan dulu tentang siapa yang berhak membuat syariat itu atau dengan istilah haq at tasyri’ (hak pembuat syariat). Bukankah Allah dan Rasul-Nya? Allah berfirman dalam Al Qur’an dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berbicara dengan hadits. As Sunnah adalah sebagai penafsir terhadap Al Qur’an. Hal ini bisa kita simak dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah oleh Imam Al Laalikai juz 1, Al Aqidah Al Washitiyah, Syarhus Sunnah, As Sunnah atau yang lain. Bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mencontohkannya? Apakah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membuat mihrab di masjidnya? Dari riwayat yang lalu bisa diambil keterangan bahwa masjid beliau tidak memiliki mihrab. Dan bukankah juga telah dinyatakan tadi bahwa mihrab-mihrab itu merupakan perbuatan tasyabbuh (meniru) kaum nashrani terhadap gereja-gereja mereka. Apakah kita ingin bertasyabbuh kepada kaum nashara? Sedangkan bertasyabbuh kepada mereka mengakibatkan tumbuhnya rasa cinta kepada mereka sebagaimana hal itu ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya Iqtidha’ Shirathal Mustaqim Mukhalafah Ashhabul Jahiim. Apakah kita cinta kepada mereka? Tentu tidak, wahai saudaraku.”

 Nah, sekarang apa lagi yang bisa kita bantah. Bahkan kita juga telah lihat sendiri bagaimana para shahabat mengambil sikap dalam masalah ini. Dan kita tentu menyadari bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak akan bersepakat dalam kesalahan. Mereka merupakan alumnus Madrasah Nabawiyah. Yang kemudian mereka mewariskan ilmu itu kepada murid-muridnya yaitu para tabi’in. Dan seterusnya … .

 Demikianlah, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari keterangan-keterangan di atas. Dan jika kita ingin memperluas pembahasan ini, silakan membaca risalah Imam As Suyuthi yaitu I’lamul Arib bi Hudutsi Bid’atil Mahariib. Kita meminta kepada Allah agar senantiasa menetapkan hati-hati kita di atas jalan-Nya yang lurus. Amin. Wallahu A’lam Bis Shawab.

 Maraji’ :

1.Silsilah Al Ahadits Adh Dha’ifah wal Maudhu’ah oleh Syaikh Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al Albani.

2.Ilmu Ushulil Bida’ oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Atsari.

3.Iqtidha’ Shirathal Mustaqim oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

4.Al Aqidah Al Wasithiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

5.Al Hawadits wal Bida’ oleh Imam Abu Bakar Ath Thurtusi, tahqiq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.

6.Al Masajid Bainal Ittiba’ wal Ibtida’ oleh DR. Muhammad Al Qamisi.

7.Shifat Shalat Nabi oleh Syaikh Al Albani.

8.Ilmu Ushul Fiqh oleh Abdul Wahhab Khalaf Al Matridi.

9.As Sunnah oleh Imam Al Laalikai.

 (http://www.assunnah.cjb.net/)

 

Last Updated (Friday, 23 July 2010 06:32)

Fatwa Ulama tentang ‘Nasyid Islami’

GambarPenulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

Bagi kalangan aktivis pergerakan Islam, nasyid menjadi alternatif dari “cara bermusik”. Mereka berkukuh bahwa selama tidak mengandung hal-hal yang dilarang dalam syariat, hal itu diperbolehkan bahkan bisa menjadi sarana “dakwah”. Mereka seakan lupa, nasyid mereka hampir tak ada bedanya dengan lagu kecuali pada syair. Syairnya pun -meski kadang berbahasa Arab- bahkan kerap mengandung kesyirikan dan kebid’ahan.

Belakangan, berkembang di kalangan muslimin satu jenis hiburan yang dikenal dengan nasyid Islami. Nasyid ini dianggap sebagai alternatif pengganti lagu dan musik yang didendangkan oleh para penyanyi umumnya. Masing-masing dari kelompok nasyid tersebut menggunakan bermacam variasi dalam menampilkan nasyidnya. Ada yang disertai rebana saja, yang kadang disertai dengan tepukan tangan atau alat-alat tertentu, lalu dinyanyikan oleh orang yang bersuara merdu atau secara berkelompok. Ada pula yang meluas, dengan menggunakan semua alat musik yang digunakan oleh para pelantun lagu-lagu yang tidak senonoh. Bahkan ada yang tidak berbeda antara lagu-lagu tersebut dengan apa yang dinamakan nasyid Islami kecuali syairnya saja. Adapun irama, musik dan lantunannya, tidak ada perbedaan.

Bila merunut sejarah, kita tidak mengetahui dalam sejarah kaum muslimin cara berdakwah menggunakan sarana-sarana seperti ini, kecuali dari kelompok Shufiyyah (Sufi) yang dikenal gemar membuat bid’ah dan menganggap baik hal-hal yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya g. Sehingga sebagian ulama menghukumi mereka dengan zindiq.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Aku meninggalkan Irak, dengan munculnya sesuatu yang disebut at-taghbir yang dibuat oleh kaum zindiq. Mereka memalingkan manusia dari Al-Qur`an.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam Al-Amru bil Ma’ruf hal. 36, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 9/146. Al-Albani berkata: “Sanadnya shahih. Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan dalam Ighatsatul Lahafan (1/229), bahwa penukilan dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu adalah mutawatir.” Lihat At-Tahrim hal. 163)

Al-Imam Ahmad rahimahullahu ditanya tentangnya. Beliau menjawab: “Itu adalah bid’ah.” Lalu beliau ditanya: “Bolehkah kami duduk bersama mereka?” Beliau menjawab: “Jangan.” (Majmu’ Fatawa, 11/569)

Abu Dawud rahimahullahu berkata: “Hal itu (ucapan Al-Imam Ahmad rahimahullahu) tidak mengherankan bagiku.” (Al-Inshaf, Al-Mardawi, 8/343)

At-Taghbir adalah bait-bait syair yang mengajak bersikap zuhud terhadap dunia, dilantunkan oleh seorang penyanyi. Sebagian yang hadir kemudian memukulkan potongan ranting di atas hamparan tikar atau bantal, disesuaikan dengan lantunan lagunya itu.

Dari sini, nampaklah bahwa apa yang diistilahkan dengan nasyid Islami tidak lain adalah bid’ah yang telah dimunculkan oleh kaum Shufiyah, lalu diberi polesan ‘Islami’ agar diterima oleh masyarakat yang tidak mengerti hakikat bid’ah ini. Seperti halnya kebatilan-kebatilan lain yang disandarkan kepada Islam, musik Islami, pacaran Islami, demokrasi Islami, demonstrasi Islami, atau embel-embel Islami yang lainnya. Namun, alhamdulillah, syariat yang mulia ini telah mengajari kita untuk tidak memandang sesuatu hanya sekadar melihat namanya. Yang terpenting adalah hakikat dari apa yang terkandung di balik nama tersebut.

Maka, sebagai nasihat bagi kaum muslimin, kami sebutkan beberapa fatwa para ulama seputar hukum perkara yang disebut dengan nasyid Islami ini.

Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Syaikhul Islam ditanya tentang sekelompok orang yang bergabung untuk melakukan berbagai dosa besar seperti pembunuhan, perampokan, pencurian, minum khamr, dan yang lainnya. Kemudian salah seorang di antara Syaikh yang dikenal memiliki kebaikan dan mengikuti As-Sunnah ingin mencegah mereka dari hal tersebut. Namun tidak memungkinkan baginya melakukan hal itu kecuali dengan cara membuat sebuah sama’ (nasyid) untuk mereka, di mana mereka berkumpul padanya dengan niat ini. Sama’ ini menggunakan rebana tanpa alat gemerincing, dan nyanyian seorang penyanyi dengan syair-syair yang diperbolehkan tanpa menggunakan seruling.

Tatkala dilakukan cara ini, di antara kelompok tersebut ada yang bertaubat. Dan orang yang sebelumnya tidak shalat, suka mencuri dan tidak berzakat, menjadi berhati-hati dari syubhat dan mengerjakan kewajiban, serta menjauhi perkara yang diharamkan. Maka apakah dibolehkan nasyid yang dibuat Syaikh ini dengan cara tersebut, karena memberi dampak kemaslahatan? Dalam keadaan tidak memungkinkan mendakwahi mereka kecuali dengan cara ini.

Beliau rahimahullahu menjawab dengan panjang lebar. Di antara yang beliau katakan:

“Sesungguhnya Syaikh tersebut ingin membuat kelompok yang hendak melakukan berbagai dosa besar itu bertaubat. Namun tidak memungkinkan baginya hal itu kecuali dengan cara yang disebutkan, berupa metode yang bid’ah. Ini menunjukkan bahwa Syaikh tersebut jahil (tidak tahu) tentang metode-metode syar’i yang menyebabkan para pelaku maksiat bertaubat, atau tidak mampu melakukannya. Karena sesungguhnya Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in, mendakwahi orang yang lebih buruk dari mereka yang disebutkan ini, dari kalangan orang-orang kafir, fasiq dan pelaku maksiat, dengan cara-cara yang syar’i. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berikan kecukupan kepada mereka dengan cara itu dari berbagai cara-cara bid’ah.

Tidak boleh dikatakan bahwa tidak ada cara syar’i yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus Nabi-Nya dengannya, yang dapat menjadikan para pelaku maksiat bertaubat. Sebab telah diketahui secara pasti dan penukilan yang mutawatir bahwa orang-orang, yang tidak ada yang mampu menghitung jumlahnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, telah bertaubat dari kekafiran, kefasikan, kemaksiatan. Tidak disebutkan padanya berkumpul dengan cara bid’ah sebagaimana yang dilakukan. Bahkan, orang-orang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta yang mengikuti mereka dengan kebaikan -dan mereka adalah para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bertakwa dari kalangan umat ini- telah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara-cara yang syar’i.” (Majmu’ Fatawa, 11/624-625)

Fatwa Al-Imam Al-’Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Dalam kitabnya Tahrim Alat Ath-Tharb (hal. 181), setelah beliau menyebutkan hukum nyanyian dan musik, beliau berkata:

“Masih tersisa bagiku kalimat terakhir, yang dengannya aku menutup risalah yang bermanfaat ini –insya Allah Subhanahu wa Ta’ala-. Yaitu seputar apa yang mereka sebut dengan istilah nasyid Islami atau nasyid agamis.

Maka aku mengatakan: Telah jelas pada pasal ketujuh tentang syair-syair yang boleh didendangkan dan yang tidak diperbolehkan. Sebagaimana pula telah jelas sebelumnya tentang haramnya seluruh alat musik, kecuali duf (rebana/gendang yang terbuka bagian bawahnya) pada hari raya dan pesta pernikahan, untuk para wanita. Dari pasal terakhir ini, kami jelaskan bahwa tidak boleh mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan apa yang disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apalagi mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang diharamkan! Karena itulah, para ulama mengharamkan nyanyian kaum Shufiyyah. Dan pengingkaran mereka sangat keras terhadap orang-orang yang menganggapnya halal. Apabila seorang pembaca menghadirkan dalam benaknya prinsip-prinsip yang kokoh ini, akan jelas baginya dengan sejelas-jelasnya, bahwa tidak ada perbedaan dari sisi hukum antara nyanyian kaum Shufi dengan nasyid Islami.

Bahkan pada nasyid Islami terdapat hal negatif lainnya. Yaitu terkadang nasyid tersebut didendangkan seperti lantunan nyanyian-nyanyian yang tidak punya rasa malu. Dan nasyid itu dibuat dengan merujuk gaya musik ala timur ataupun ala barat, yang membuat girang para pendengarnya, membuat mereka berjoget, serta membenamkan alam sadar mereka. Sehingga, yang menjadi tujuan utamanya adalah lantunan dan kegembiraan, bukan hanya sekadar nasyid. Ini adalah bentuk penyelisihan baru, yaitu tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak punya rasa malu. Muncul pula anak penyimpangan lainnya, yaitu tasyabbuh dengan mereka dalam hal berpaling dari Al-Qur`an dan meninggalkannya. Sehingga mereka termasuk dalam keumuman sesuatu yang dikeluhkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kaumnya, sebagaimana yang terdapat dalam firman-Nya:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini suatu yang tidak diacuhkan.” (Al-Furqan: 30)

Sesungguhnya aku benar-benar mengingat bahwa tatkala aku berada di Damaskus -dua tahun sebelum aku berhijrah ke sini (Amman)- sebagian pemuda muslim mulai bernyanyi dengan nasyid yang maknanya masih selamat (dari penyimpangan), dengan tujuan menyaingi nyanyian kaum Shufiyyah, seperti qashidah Al-Bushiri dan yang lainnya. Nasyid tersebut terekam di kaset.

Tidak berapa lama kemudian, nasyid tersebut sudah dibarengi pukulan rebana! Mulanya, mereka menggunakannya pada acara-acara pesta pernikahan, dengan alasan bahwa menggunakan rebana pada acara tersebut boleh. Kemudian kaset tersebut menyebar dan dikopi menjadi beberapa kaset salinan. Tersebarlah penggunaannya di sekian banyak rumah. Merekapun menyimaknya siang malam, baik dalam sebuah acara tertentu ataupun tidak. Dan hal tersebut menjadi hiburan mereka!

Keadaan ini tidak terjadi melainkan karena hawa nafsu yang mendominasi dan kebodohan terhadap tipu daya setan. Sehingga hal itu memalingkan mereka dari perhatian terhadap Al-Qur`an dan mendengarnya, apalagi mempelajarinya. Al-Qur`an pun menjadi sesuatu yang ditinggalkan, sebagaimana yang disebut dalam ayat yang mulia tersebut. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata dalam tafsirnya (3/317): “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengabarkan tentang Rasul dan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia berkata:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur`an ini sesuatu yang tidak diacuhkan.” (Al-Furqan: 30)

Hal itu karena orang-orang musyrik tidak mau mendengar Al-Qur`an dan menyimaknya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لاَ تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْءَانِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar Al-Qur`an ini dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)’.” (Fushshilat: 26)

Adalah jika dibacakan Al-Qur`an kepada mereka, mereka gaduh dan memperbanyak percakapan pada perkara yang lain, sehingga mereka tidak mendengarnya. Hal ini termasuk meninggalkannya. Tidak beriman dengannya dan tidak membenarkannya termasuk mengabaikan Al-Qur`an. Tidak mentadabburi dan memahaminya termasuk mengabaikannya. Tidak beramal dengannya, tidak melaksanakan perintahnya dan tidak menjauhi larangannya termasuk mengabaikannya. Berpaling darinya menuju kepada selainnya berupa syair, perkataan, nyanyian, atau yang melalaikan, atau sebuah ucapan atau satu metode yang diambil dari selainnya, termasuk mengabaikannya. Kami memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Yang Maha Pemberi Anugerah, Maha Kuasa atas segala apa yang Dia inginkan, agar menghindarkan kita dari kemurkaan-Nya, dan mengantarkan kita menuju apa yang diridhai-Nya berupa menghafal kitab-Nya dan memahaminya, serta melaksanakan kandungannya, baik di malam maupun siang hari, dengan cara yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mulia dan Maha Pemberi.” (Tahrim Alat Ath-Tharb, hal. 181-182)

Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu

Beliau rahimahullahu ditanya: “Saya pernah mendengar sebagian nasyid Islami dan di dalamnya terdapat lantunan-lantunan yang menyerupai nyanyian. Tanpa musik, namun disertai suara yang indah. Bagaimanakah hukumnya? Sebagai pengetahuan, ada sebagian ikhwan yang tidak senang dengannya dan mengatakan bahwa hal itu termasuk amalan kaum Shufiyyah. Aku berharap dari Syaikh yang mulia untuk memberi jawaban.”

Beliau menjawab setelah mengucapkan hamdalah dan shalawat kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Nasyid-nasyid yang ditanyakan oleh penanya ini, yang dinamakan dengan nasyid Islami, di dalamnya terdapat sebagian perkara yang terlarang. Di antaranya, nasyid tersebut dilantunkan seperti nyanyian para biduan, yang bernyanyi dengan nyanyian-nyanyian tidak senonoh. Kemudian, nasyid itu dilantunkan dengan suara yang indah dan merdu. Bahkan terkadang dibarengi dengan tepuk tangan, atau memukul piring dan yang semisalnya.

Adapun yang disebutkan dalam pertanyaan, yaitu tidak ada tepuk tangan dan pukulan piring atau yang semisalnya, dan si penanya berkata bahwa ia dilantunkan seperti nyanyian yang tidak senonoh, dengan suara yang indah dan merdu. Maka, kami berpandangan agar nasyid seperti ini tidak didengarkan, karena dapat menimbulkan fitnah dan menyerupai lantunan nyanyian para biduan yang tidak punya rasa malu.

Tentunya, yang lebih baik dari itu ialah mendengarkan nasihat-nasihat yang bermanfaat, yang diambil dari Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta perkataan para sahabat dan para imam dari kalangan ahli ilmu dan agama. Karena, di dalamnya sudah terdapat kecukupan dan kepuasan dari yang lainnya.

Jika seseorang terbiasa tidak mengambil sesuatu sebagai nasihat kecuali dengan cara tertentu, seperti lantunan nyanyian, hal itu akan menyebabkan dia tidak dapat mengambil manfaat dengan nasihat-nasihat yang lain. Sebab jiwanya telah terbiasa mengambil nasihat hanya dengan cara ini. Hal ini sangat berbahaya, bahkan dapat menyebabkan seseorang bersikap zuhud (tidak butuh) terhadap nasihat Al-Qur`an yang mulia dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta perkataan para ulama dan imam.” (diterjemahkan dari kaset Nur ‘Alad Darb, kaset no. 258, bagian kedua)

Fatwa Al-’Allamah Hamud bin Abdillah At-Tuwaijiri

“Sesungguhnya, sebagian nasyid yang banyak dilantunkan para pelajar di berbagai acara dan tempat pada musim panas, yang mereka namakan dengan nasyid-nasyid Islami, bukanlah dari Islam. Sebab, hal itu telah dicampuri dengan nyanyian, melodi, dan membuat girang yang membangkitkan (gairah) para pelantun nasyid dan pendengarnya. Juga mendorong mereka untuk bergoyang serta memalingkan mereka dari dzikrullah, bacaan Al-Qur`an, mentadabburi ayat-ayatnya, dan mengingat apa-apa yang disebut di dalamnya berupa janji, ancaman, berita para nabi dan umat-umat mereka, serta hal-hal lain yang bermanfaat bagi orang yang mentadabburinya dengan sebenar-benar tadabbur, mengamalkan kandungannya, dan menjauhi larangan-larangan yang disebutkan di dalamnya, dengan mengharap wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dari ilmu dan amalannya.” (Iqamatud Dalil ‘Alal Man’i Minal Anasyid Al-Mulahhanah wat Tamtsil hal. 6, dari situs sahab.net)

“Barangsiapa mengqiyaskan nasyid-nasyid yang dilantunkan dengan lantunan nyanyian, dengan syair-syair para sahabat radhiyallahu ‘anhum tatkala mereka membangun Masjid Nabawi, menggali parit Khandaq, atau mengqiyaskan dengan syair perjalanan yang biasa diucapkan para sahabat untuk memberi semangat kepada untanya di waktu safar, maka ini adalah qiyas yang batil. Sebab para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak pernah bernyanyi dengan syair-syair tersebut dan menggunakan lantunan-lantunan yang membuat girang, yang membangkitkan para pelantun nasyid dan pendengarnya, seperti yang dilakukan oleh sebagian pelajar di berbagai acara dan tempat pada musim panas. Namun para sahabat g hanya mencukupkan melantunkan syair-syair tersebut dengan mengangkat suara. Tidak disebutkan bahwa mereka berkumpul untuk melantunkan nasyid dengan satu suara, seperti yang dilakukan para pelajar di zaman kita.

Kebaikan yang hakiki adalah mengikuti apa yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallâhu ‘anhum. Kejahatan yang sesungguhnya adalah dengan menyelisihi mereka, lalu mengambil perkara-perkara baru yang bukan dari bimbingan mereka, serta tidak dikenal pada zaman mereka.

Semua itu berasal dari bid’ah kaum Shufiyyah, yang menjadikan agama mereka sebagai permainan serta hal yang melalaikan. Telah diriwayatkan tentang bahwa mereka berkumpul untuk melantunkan nasyid dengan irama secara berlebih-lebihan serta melampaui batas dalam menjunjung Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkumpul untuk melakukan hal itu dan menamakannya dengan dzikir, padahal pada hakikatnya merupakan olok-olokan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dzikir-Nya. Dan siapapun yang menjadikan kaum Shufi yang sesat sebagai pendahulu dan panutan, maka itu adalah seburuk-buruk teladan yang telah mereka pilih untuk diri-diri mereka.” (ibid, hal. 7-8)

Beliau juga berkata: “Sesungguhnya, penamaan nasyid-nasyid yang dilantunkan dengan nyanyian sebagai nasyid Islami, menyebabkan timbulnya perkara-perkara jelek dan berbahaya. Di antaranya:

1. Menjadikan bid’ah ini sebagai bagian ajaran Islam dan penyempurnanya. Ini mengandung unsur penambahan terhadap syariat Islam, sekaligus pernyataan bahwa syariat Islam belum sempurna di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” (Al-Ma`idah: 3)

Ayat yang mulia ini merupakan nash yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam bagi umat ini. Sehingga, pernyataan bahwa nasyid yang berlirik (lagu) tersebut sebagai Islami, mengandung unsur penentangan terhadap nash ini, dengan menyandarkan nasyid-nasyid yang bukan dari ajaran Islam kepada Islam dan menjadikannya sebagai bagian darinya.

2. Menisbahkan kekurangan kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyampaikan dan menjelaskan kepada umatnya. Di mana beliau tidak menganjurkan mereka melantunkan nasyid secara berjamaah dengan lirik lagu. Tidak pula beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada mereka bahwa itu adalah nasyid Islami.

3. Menisbahkan kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallâhu ‘anhum bahwa mereka telah menelantarkan salah satu perkara Islam dan tidak mengamalkannya.

4. Menganggap baik bid’ah nasyid yang dilantunkan dengan irama nyanyian, dan memasukkannya sebagai perkara Islam. Telah disebutkan oleh Asy-Syathibi dalam Al-I’tisham apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Habib dari Ibnul Majisyun, dia berkata: “Aku mendengar Malik (bin Anas) berkata: ‘Barangsiapa berbuat bid’ah di dalam Islam dan ia menganggapnya baik, maka sungguh dia telah menganggap bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati risalah. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” (Al-Ma`idah: 3)

Maka, apa yang pada masa itu tidak menjadi agama, maka pada hari inipun tidak menjadi agama.” (ibid, hal. 11)

Fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menyebutkan dalam kitabnya Al-Khuthab Al-Minbariyyah (3/184-185):

“Di antara yang perlu menjadi perhatian adalah apa yang banyak beredar di antara para pemuda yang semangat menjalankan agama, berupa kaset-kaset yang terekam padanya nasyid-nasyid, dengan suara berjamaah, yang mereka namakan nasyid Islami. Ini adalah salah satu jenis nyanyian. Terkadang disertai suara yang menimbulkan fitnah, dan dijual di beberapa toko/studio bersama dengan kaset rekaman Al-Qur`an Al-Karim serta ceramah-ceramah agama.

Penamaan nasyid-nasyid ini dengan nasyid Islami adalah pemberian nama yang keliru. Sebab Islam tidak pernah mensyariatkan nasyid kepada kita. Islam hanya mensyariatkan kepada kita berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, membaca Al-Qur`an, dan mempelajari ilmu yang bermanfaat. Adapun nasyid-nasyid tersebut, hal itu berasal dari agama kelompok bid’ah Shufiyyah, yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan hal yang melalaikan. Menjadikan nasyid sebagai agama adalah menyerupai kaum Nasrani, yang menjadikan bernyanyi secara berjamaah dan lantunan yang membuat orang bergoyang sebagai agama mereka.

Tindakan yang wajib adalah berhati-hati dari nasyid-nasyid ini, dan melarang penjualan serta peredarannya, untuk mencegah akibat buruk yang ditimbulkannya, berupa fitnah dan semangat yang tidak terkontrol, serta mengadu domba di kalangan kaum muslimin.” (As`ilah ‘an Al-Manahij Al-Jadidah, Jamal bin Furaihan Al-Haritsi, hal. 20-21)

Perbedaan ‘Nasyid Islami’ dengan Dendangan Syair para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

 Mereka mendendangkan syair-syair mereka pada waktu tertentu, seperti ketika safar (yang disebut dengan hida’), dengan tujuan mengusir rasa kantuk. Atau tatkala melakukan satu pekerjaan yang cukup berat, seperti membangun rumah, parit, dan yang semisalnya (yang disebut rajz). Sedangkan nasyid Islami menjadi hiburan di setiap waktu, dengan alasan sebagai alternatif pengganti lagu-lagu cabul dan tidak punya rasa malu. Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullahu berkata:

إِنِّي لَأَبْغَضُ الْغِنَاءَ وَأُحِبُّ الرَّجْزَ

“Sesungguhnya aku membenci nyanyian dan menyukai rajz.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, 11/19743. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim hal. 279)

 Syair-syair yang mereka lantunkan tersebut diistilahkan dengan nasyid kaum Arab, bukan nasyid Islami.

 Tujuan mereka melantunkan bait-bait syair tersebut adalah untuk meringankan beban yang sedang mereka alami, dari keletihan di waktu safar atau bekerja keras. Sedangkan nasyid Islami dibuat dengan tujuan sebagai ‘sarana dakwah’. Agar orang yang mendengarnya menjadi sadar dari perbuatan maksiat yang dia lakukan, sebagaimana fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu yang telah lalu. Atau dengan alasan sebagai alternatif pengganti lagu-lagu cabul.

 Lantunan syair mereka tidak mendorong untuk bergoyang dan melenggak-lenggokkan badan, berbeda dengan yang disebut nasyid Islami.

 Lantunan syair-syair mereka tidak diiringi alat musik. Sedangkan apa yang disebut nasyid Islami, mayoritasnya disertai dengan alat musik.

 Lantunan syair mereka tidak disertai dengan notasi (do-re-mi) seperti halnya nyanyian. Berbeda dengan yang disebut nasyid Islami yang menggunakan notasi nyanyian, dengan lirik yang sama seperti nyanyian secara umum. Bahkan di antara nasyid tersebut ada yang tidak memiliki perbedaan sama sekali dengan lagu-lagu cabul, kecuali gubahannya saja. Adapun lirik dan lantunannya sama persis, tidak berbeda.

 Mereka melantunkan syair-syair tersebut secara individu, bukan berjamaah. Tidak seperti yang mereka namakan nasyid Islami. (Lihat kitabal Bayan li Akhtha` Ba’dhil Kuttab, Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 341, kitab At-Tahrim, Al-Albani hal. 101)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengenal al-haq dan mengikutinya, dan memperlihatkan kepada kita kebatilan agar kita dapat menjauhkan diri darinya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Sumber: Majalah Asy Syariah, Vol. IV/No. 40/ 1429H/2008, kategori: Kajian Utama, hal. 21-26, dicopy dari http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=656)

Last Updated (Wednesday, 08 December 2010 09:23)

Kedudukan Kitab “Fadha’il Al-A’mal” Kitab Rujukan Jama’ah Tabligh

Kedudukan kitab “fadha’il al-a’mal”, kitab rujukan utama jama’ah tabligh

Lajnah Daimah ditanya: Syaikh Muhammad Zakaria rahimahullah termasuk ulama yang paling masyhur di India dan Pakistan,khususnya dilingkungan jama’ah tabligh.Dia memiliki beberapa tulisan,diantaranya kitab “fadha’il al-a’mal”,dimana kitab ini dibanyakan dihalaqah-halaqah yang membahas agama dikalangan jama’ah tabligh.para anggota jama’ah ini meyakini kitab ini seperti “shahih bukhari”,dan yang semisalnya,dan dahulu akupun bersama mereka.Disaat sedang membaca kitab ini, aku mendapati banyak kisah-kisah yang diriwayatkan, yang terkadang sulit difahami dan meyakininya.Oleh karena itu,aku mengirim kepada lembaga kalian agar dapat memberi jalan keluar dari permasalahanku ini.

Diantara kisah ini adalah kisah yang diriwayatkan oleh Sayyid Ahmad Rifa’I,dimana dia berkata: tatkala dia selesai menunaikan ibadah haji, diapun mengunjungi kuburan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam sambil melantunkan bait-bait syair berikut dan berdiri di depan kuburan Nabi Shallallahu alaihi wasallam sambil berkata:

فـي حالـة البعـد روحي كنت أرسلها. . . . . . . . . . تقبــل الأرض عني وهي نائبتي

وهــذه دولــة الأشباح قد حضرت. . . . . .. . . .. فامدد يمينـك كي تحظى بها شفتي

Dikejauhan aku melepaskan ruhku

Bumipun menerimanya dan dia menjadi penggantiku

Inilah negeri orang-orang yang telah hadir

julurkanlah tanganmu agar bibirku mendapat bagian darinya

Setelah membaca bait-bait ini,keluarlah tangan kanan Rasul Shallallahu alaihi wasallam, lalu akupun menciumnya. (Al-Hawi,As-Suyuthi).

Dan dia menyebutkan bahwa ada Sembilan puluh ribu muslim yang telah melihat kejadian besar ini,dan mereka dimuliakan dengan mengunjungi tangan yang memiliki berkah itu.Diantara mereka adalah Syaikh Abdul Qadir Jaelani rahimahullah.Yang waktu itu berada di masjid nabawi yang mulia adalah bangunan yang inggi.Maka berkenaan dengan kisah ini,aku ingin bertanya kepada kalian:

1. Apakah kisah ini memiliki asal,atau tidak ada hakekatnya?

2. Apa menurut kalian tentang kitab “Al-Hawi” karya As-Suyuthi,dimana dia menetapkan adanya kisah ini?

3. Jika kisah ini tidak benar, apakah boleh shalat dibelakang imam yang meriwayatkan kisah ini dan meyakini kebenarannya? Apakah sah keimamahannya atau tidak?

4. Apakah boleh membaca kitab-kitab seperti ini dihalaqah-halaqah agama di masjid-masjid? Dimana kitab ini dibacakan dimasjid-masjid di Britania oleh kaum jama’ah tabligh ,dan juga sangat masyhur di kerajaan Arab Saudi,khususnya di Madinah Munawwarah,dimana penulis kitab ini hidup lama di Madinah Munawwarah.Saya berharap kepada para Syaikh yang mulia agar memberi faedah kepada kami dengan jawaban yang cukup dan terperinci,agar saya dapat menerjemahkannya kedalam bahasa negeri setempat lalu menyebarkanya kepada para sahabat dan temanku,dan kaum muslimin lainnya yang saya berbincang dengannya dalam pembahasan ini?

Lajnah menjawab:

هذه القصة باطلة لا أساس لها من الصحة ؛ لأن الأصل في الميت نبيا كان أم غيره أنه لا يتحرك في قبره بمد يد أو غيرها ، فما قيل من أن النبي صلى الله عليه وسلم أخرج يده للرفاعي أو غيره غير صحيح ، بل هو وهم وخيال لا أساس له من الصحة ، ولا يجوز تصديقه ، ولم يمد يده صلى الله عليه وسلم لأبي بكر ولا عمر ولا غيرهما من الصحابة فضلا عن غيرهم ، ولا يغتر بذكر السيوطي لهذه القصة في كتابه : (الحاوي) ؛ لأن السيوطي في مؤلفاته كما قال العلماء عنه : حاطب ليل يذكر الغث والسمين ، ولا تجوز الصلاة خلف من يعتقد صحة هذه القصة لأنه مصدق بالخرافات ومختل العقيدة ، ولا تجوز قراءة كتاب (فضائل أعمال) وغيره مما يشتمل على الخرافات والحكايات المكذوبة على الناس في المساجد أو غيرها ؛ لما في ذلك من تضليل الناس ونشر الخرافات بينهم .

نسأل الله عز وجل أن يوفق المسلمين لمعرفة الحق والعمل به إنه سميع مجيب . وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه .

“ini adalah kisah yang batil yang tidak ada landasan kebenarannya sama sekali,sebab asal hukum orang yang telah mati apakah dia seorang nabi atau bukan bahwa dia sudah tidak bergerak dalam kuburannya,apakah dengan menjulurkan tangannya atau yang lainnya.Adapun yang disebutkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengeluarkan tangannya kepada Rifa’I atau yang lainnya,tidaklah benar. Bahkan ini merupakan khayalan yang tidak ada landasan kebenarannya, dan tidak boleh membenarkannya.Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menjulurkan tangannya kepada Abu Bakar,Umar ,tidak pula selain keduanya dari kalangan para sahabat,terlebih lagi selain mereka.Jangan pula tertipu dengan penyebutan Suyuthi terhadap kisah ini dalam kitabnya (Al-Hawi) , sebab Suyuthi dalam tulisan-tulisannya seperti yang disebutkan para ulama: hathibul lail (pencari kayu bakar dimalam hari)1 , dia menyebut yang kurus dan yang gemuk (tidak memperhatikan kebenaran apa yang dinukilnya,pen), dan tidak diperbolehkan shalat dibelakang orang yang meyakini kebenaran kisah ini sebab dia meyakini perkara-perkara khurafat ini dan ada kerusakan dalam akidahnya, dan tidak boleh pula membacakan kepada manusia kitab “fadha’il al-a’mal” dan yang lainnya dari kitab yang mengandung berbagai khurafat dan cerita-cerita palsu di masjid-masjid atau yang lainnya,sebab yang demikian menyebabkan tersesatnya manusia dan tersebarnya perkara khurafat dikalangan diantara mereka.

Kami memohon kepada Allah Azza wajalla agar memberi taufik kepad kaum muslimin untuk mengenal kebenaran dan mengamalkannya. Sesungguhnya Dia maha mendengan dan maha mengabulkan. Shalawat dan Salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wasallam ,keluarga dan para sahabatnya.

Lajnah Daimah untuk pembahasan ilmiah dan fatwa

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah Alus Syaikh

Anggota: · Abdullah Ghudayyan, · Saleh Al-Fauzan, Bakr Abu Zaid,

(lajnah Daimah fatwa No:21412)

Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=358796

(Sumber : http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&view=article&id=69:kedudukan-kitab-qfadhail-al-amalq-kitab-rujukan-jamaah-tabligh&catid=31:nasehat-a-bantahan&Itemid=46)

Membantah Ahlul Bid’ah, Sebab Perpecahan?

Banyak orang mengatakan bahwa pihak-pihak yang membantah ahlul bid’ah mereka itu adalah penyebab perpecahan.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan:
Benar, mereka itu adalah penyebab perpecahan (yakni yang membedakan dan memisahkan, pent) antara yang haq dengan yang batil, ini yang benar.

Kami membedakan/memisahkan antara yang haq dengan yang bathil, antara ahlul haq dengan ahlul bathil. Senantiasa kami akan membantah (kebatilan dan para pelakunya), demikian pula para ulama juga membantah mereka.
Yang seperti ini bukanlah untuk membikin perpecahan, akan tetapi justru ini untuk menyatukan umat di atas al-haq. Karena keberadaan umat manusia di atas kesesatan dan di atas pemikiran-pemikiran yang batil, inilah sesunggguhnya yang menyebabkan perpecahan antar umat Islam.

Adapun upaya untuk menjelaskan al-haq kepada mereka (umat Islam) adalah dalam rangka menyatukan umat di atasnya, maka inilah sesungguhnya dakwah kepada persatuan, bukan dakwah kepada perpecahan.

Dikatakan dakwah kepada perpecahan itu apabila tidak ada upaya untuk membantah ahlul bathil. Inilah sesungguhnya dakwah kepada perpecahan jika mereka memahaminya.

(Dari Ta’liq terhadap kitab Syarhus Sunnah, karya Al-Imam Al-Barbahari)

Diambil dari: http://sahab.net/forums/showthread.php?t=379463

(Sumber http://www.assalafy.org/mahad/?p=520)

Perayaan Maulid Rasulullah dalam sorotan Islam

Gambaroleh: Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz rahimahullah

Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah.

Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara atau peringatan maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam; mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya.

 Jawab: Harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul-kumpul/ pesta-pesta pada malam kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bid’ah) dalam agama, selain Rasulullah tidak pernah mengerjakanya, begitu pula Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan orang-orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih banyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar-benar menjalankan syariatnya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من أحـدث في أمـرنا هذا ما ليس منـه فهـو رد “، أي مـردود

“Barang siapa mengada adakan (perkara baru) dalam urusan (agama) kami yang (sebelumnya) tidak pernah ada, maka dia tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain beliau bersabda:

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

“Wajib atas kalian semua untuk berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu kesesatan” (HR. Abu Daud dan Turmidzi)

Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu agar kita senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah apapun, begitu pula mengerjakannya.

Firman Allah ta’ala dalam kitab-Nya:

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا الله إن الله شديد العقاب

“Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha keras siksaan- Nya” (Al-Hasyr: 7)

 

فليحـذر الذين يخالفـون عن أمـره أن تصيبـهم فتنة أو يصيبـهم عذاب أليم

“Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” (An-Nur: 63)

 

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat ) Allah, dan ( kedatangan ) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab: 21)

والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم

“Orang-orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepada-Nya, serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” (At taubah: 100)

 

اليوم أكملت لكم دينكـم وأتممت عليكـم نعمتي ورضيت لكـم الإسلام دينا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan atas kalian ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama kalian” (Al-Maidah: 3)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan melarang melakukan bid’ah, karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam agama, seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan bahwasanya Allah belum menyempurnakan agama-Nya buat umat ini, berarti juga Rasulullah itu belum menyampaikan apa-apa yang wajib dikerjakan umatnya, sehingga datang orang-orang yang kemudian mengada-adakan sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh Allah, dengan anggapan bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya yang besar, lantaran menentang Allah Ta’ala, begitu pula menentang Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya.

Sebagaimana telah disabdakan dalam sebuah hadits, dari Ibnu ‘Umar radhiallahu anhuma bahwa beliau bersabda

ما بعث الله من نبي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم عن شر ما يعلمه لهم

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan yang telah ditunjukkan kepada mereka” (HR. Muslim)

 

Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terbaik diantara para Nabi yang lain, beliau merupakan penutup bagi mereka; seorang Nabi yang paling sempurna dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya diantara mereka semua.

Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul-betul datang dari agama yang diridhai Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada-adakan (bid’ah), dimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits di atas, dan masih banyak hadits-hadits lain yang senada dengan hadits tersebut. Seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’at nya:

أما بعد، فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة

“Amma Ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek-jelek perbuatan (dalam agama) ialah perkara yang diada-adakan (bid’ah), sedang tiap-tiap bid’ah itu adalah kesesatan” (HR. Muslim)

Masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an serta hadits-hadits yang menjelaskan masalah ini, berdasarkan dalil-dalil inilah para ulama bersepakat untuk mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan memperingatkan agar waspada terhadapnya.

Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama di dalam acara itu tidak terdapat kemungkaran seperti berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian alat-alat musik dan lain sebagainya dari hal-hal yang menyalahi syariat, mereka beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah hasanah padahal kaidah syariat mengatakan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia hendaknya dikembalikan kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا

“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) di antara kalian, kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (An-Nisa’: 59)

 

وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله ذلكم الله ربي عليه توكلت وإليه أنيب

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah (Yang mempunyai sifat-sifat demikian), itulah Tuhanku, Kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan kepada-Nya-lah aku kembali” (Asy-Syuro: 10)

Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah (Al-Qur’an), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah, menjauhi apa apa yang dilarang oleh beliau, dan (Al-Qur’an) memberi penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyempurnakan agama umat ini.

Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita, dan diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul, ternyata tidak terdapat keterangan bahwa beliau telah menjalankannya, (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) dikerjakan oleh sahabat sahabatnya.

Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada-adakan, perbuatan yang menyerupai hari hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani.

Hal ini jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang haq, dan mempunyai keobyektifan dalam membahas; bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, melainkan merupakan bid’ah-bid’ah yang diada-adakan, dimana Allah memerintahkan Rasul-Nya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya, tak layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran (Al-Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakannya), tetapi diketahui atas dasar dalil-dalil syara’. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani:

وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو نصارى تلك أمانيهم قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: sekali kali tak (seorangpun) akan masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka; katakanlah: tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang orang yang benar” (Al-Baqarah: 111)

 

وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang orang yang berada dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah ; mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak lain hanyalah menyangka-nyangka” (Al-An’am: 116 )

 

Lebih dari itu, upacara peringatan maulid Nabi ini –selain bid’ah– tidak lepas dari kemungkaran-kemungkaran, seperti bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan mahram), pemakaian lagu-lagu dan bunyi-bunyian, minum-minuman yang memabukkan, ganja dan kejahatan-kejahatan lainya yang serupa.

Kadangkala terjadi juga hal yang lebih besar dari pada itu, yaitu perbuatan syirik besar, dengan sebab mengagungkan Rasulullah secara berlebih-lebihan atau mengagungkan para wali, berupa permohonan do’a, pertolongan, dan rizki. Mereka percaya bahwa Rasul dan para wali mengetahui hal hal yang ghaib, dan macam-macam kekufuran lainnya yang sudah biasa dilakukan orang banyak dalam upacara malam peringatan maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam itu.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إياكم والغلو في الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين

“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam agama, karena berlebih lebihan dalam agama itu telah menghancurkan orang orang sebelum kalian”


 

لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا عبد الله ورسوله ” رواه البخاري في صحيحه من حديث عمر رضي الله عنه

“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam memujiku sebagaimana orang orang Nasrani memuji anak Maryam, Aku tidak lain hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : hamba Allah dan Rasul Allah” (HR. Bukhari dari ’Umar radhiallahu anhu)

 

Yang lebih mengherankan lagi yaitu banyak diantara manusia itu ada yang betul-betul giat dan bersemangat dalam rangka menghadiri upacara bid’ah ini, bahkan sampai membelanya, sedang mereka berani meninggalkan sholat Jum’at dan sholat jama’ah yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka, dan sekali-kali tidak mereka indahkan. Mereka tidak sadar kalau mereka itu telah mendatangkan kemungkaran yang besar, disebabkan karena lemahnya iman, kurangnya berfikir, dan berkaratnya hati mereka, karena bermacam-macam dosa dan perbuatan maksiat. Marilah kita sama-sama meminta kepada Allah agar tetap memberikan limpahan karunia-Nya kepada kita dan kaum muslimin.

Diantara pendukung maulid itu ada yang mengira, bahwa pada malam upacara peringatan tersebut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam datang, oleh kerena itu mereka berdiri menghormati dan menyambutnya, ini merupakan kebatilan yang paling besar, dan kebodohan yang paling nyata. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari kiamat, tidak berkomunikasi kepada seorangpun, dan tidak menghadiri pertemuan pertemuan umatnya, tetapi beliau tetap tinggal didalam kuburnya sampai datang hari kiamat, sedangkan ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin) di sisi Tuhan-Nya, itulah tempat kemuliaan.

Firman Allah dalam Al-Qur’an:

ثم إنكم بعد ذلك لميتون ثم إنكم يوم القيامة تبعثون

“Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian pasti mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat” (Al-Mu’minun: 15-16)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أنا أول من ينشق عنه القبر يوم القيامة، وأنا أول شافع وأول مشفع

“Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan/ dibangunkan diantara ahli kubur pada hari kiamat, dan aku adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at dan diizinkan memberikan syafa’at”

Ayat dan hadits diatas, serta ayat-ayat dan hadits-hadits yang lain yang semakna menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mayat-mayat yang lainnya tidak akan bangkit kembali kecuali sesudah datangnya hari kebangkitan. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para ulama, tidak ada pertentangan di antara mereka.

Maka wajib bagi setiap individu muslim memperhatikan masalah masalah seperti ini, dan waspada terhadap apa-apa yang diada-adakan oleh orang-orang bodoh dan kelompoknya, dari perbuatan perbuatan bid’ah dan khurafat, yang tidak diturunkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Hanya Allah-lah sebaik baik Pelindung kita, kepada-Nya lah kita berserah diri dan tidak ada kekuatan serta kekuasaan apapun kecuali kepunyaan-Nya.

Sedangkan ucapan shalawat dan salam atas Rasulullah adalah merupakan pendekatan diri kepada Allah yang paling baik, dan merupakan perbuatan yang baik, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an:

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi, hai orang orang yang beriman, bersholawatlah kalian atas Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya” (Al-Ahzab: 56)

Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من صلى علي واحدة صلى الله عليه بها عشرا

“Barang siapa yang mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali lipat”

Shalawat itu disyariatkan pada setiap waktu, dan hukumnya Muakkadah jika diamalkan pada ahir setiap sholat, bahkan sebagian para ulama mewajibkannya pada tasyahud akhir di setiap shalat, dan sunnah muakkadah pada tempat lainnya, diantaranya setelah adzan, ketika disebut nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada hari Jum’at dan malamnya, sebagaimana hal itu diterangkan oleh hadits-hadits yang cukup banyak jumlahnya.

Allah-lah tempat kita memohon, untuk memberi Taufiq kepada kita sekalian dan kaum muslimin, dalam memahami agama-Nya, dan memberi mereka ketetapan iman, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita agar tetap kosisten dalam mengikuti sunnah, dan waspada terhadap bid’ah, karena Dia-lah Maha Pemurah dan Maha Mulia, semoga pula shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

(Dikutip dari  الحذر من البدع  Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia “Waspada terhadap Bid’ah”)

 

 

sumber: abuamincepu.wordpress.com

Last Updated (Sunday, 09 January 2011 23:12)

Shahihkah Do’a Bulan Rajab ?

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

Senantiasa kita mendengar do’a sebagaimana tersebut diatas, saat mendekatnya kita dengan bulan suci Ramadhan. Kebanyakan da’i atau penceramah menyandarkan do’a ini kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam. Namun yang menjadi persoalan adalah, apakah benar do’a ini berasal dari Rosululloh (haditsnya shahih)?

Nash Hadits tersebut, Telah disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad (1/259)

حدثنا عبد الله ، حدثنا عبيد الله بن عمر ، عن زائدة بن أبي الرقاد ، عن زياد النميري ، عن أنس بن مالك قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبارك لنا في رمضان وكان يقول : ليلة الجمعة غراء ويومها أزهر .

Menceritakan kepada kami Abdullah, Ubaidullah bin Umar, dari Zaidah bin Abi ar-Raaqod, dari Ziyad an-Numairi, dari Anas bin Malik berkata ia, Adalah Nabi shallallohhu ‘alaihi wasallam apabila masuk bulan Rajab, beliau berdo’a ;“Ya Alloh berkahilah kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Bulan Ramadhan. Kemudian beliau berkata, “Pada malam jumatnya ada kemuliaan, dan siangnya ada keagungan.

Takhrij hadits,

Diriwayatkan oleh Ibn Sunny dalam “Amal Yaumi wal Lailah” (659) dari jalur ibn Mani’ dikabarkan oleh Ubaidullah bin Umar Al-Qawaririy.

Dan Baihaqiy dalam Su’abul Iman (3/375) dari jalur Abi Abdullah al-Hafidz, dikabarkan dari Abu Bakr Muhammad bin Ma’mal, dari AlFadhil bin Muhammad Asy-Sya’raniy, dari Al-Qawaririy.

Dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (6/269) dari jalur Habib bin Al-Hasan, dan ‘Ali bin Harun ia berkata, menceritakan kepada kami Yusuf Al-Qadhi, dari Muhammad bin Abi Bakr, dari Zaidah bin Abi ar-Raaqod.

Dan AlBazar dalam Musnadnya (Mukhtasar Zawaidul Bazar li Hafidz 1/285) dari jalur Ahmad bin Malik al-Qusyairi dari Zaidah.

Hadits tersebut memiliki 2 cacat,

  1. Ziyad bin Abdullah An-Numairy

Berkata Yahya bin Ma’in ; Haditsnya Dhaif

Berkata Abu Hatim ; Haditsnya ditulis, tapi tidak (bisa) dijadikan Hujjah

Berkata Abu ubaid Al-Ajry ; Aku bertanya kepada Abu Daud tentangnya, maka ia mendhaifkannya.

Ibnu Hajr berkata : Ia Dhaif

  1. Zaidah bin Abi Ar-Raaqod

Berkata Al-Bukhary : Haditsnya Mungkar

Abu Daud berkata : Aku tidak mengenalnya

An-Nasa’i berkata : Aku tidak tahu siapa dia

Adz-Dzahaby berkata : Tidak bisa dijadikan hujjah

Komentar Ahlul Ilmi tentang hadits ini,

Al-Baihaqiy dalam Su’abul Iman (3/375) berkata, telah menyendiri Ziyad An-Numairi dari jalur Zaidah bin Abi ar-Raqad, Al-Bukhary berkata, Hadits dari keduanya adalah mungkar.

An-Nawawy dalam Al-Adzkar (274) berkata, kami telah meriwayatkannya dan terdapat kedhaifan dalam sanadnya.

Dan seterusnya lihat http://saaid.net/Doat/Zugail/57.htm

SUMBER : http://alatsar.wordpress.com/2007/07/18/doa-bulan-rajab/

Hadits Palsu Seputar Amalan Bulan Rajab

Penulis: Al Ustadz Abu Al Mundzir Dzul Akmal As Salafiy


1. حديث : رجب شهر الله, وشعبان شهري, ورمضان شهر أمتى. فمن صام من رجب يومين. فله من الأجر ضعفان, ووزن كل ضعف مثل جبال الدنيا, ثم ذكر أجر من صام أربعة أيام, ومن صام ستة أيام, ثم سبعة أيام ثم ثمانية أيام, ثم هكذا: إلى خمسة عشر يوما منه.Artinya : “Rajab adalah bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam), sedangkan Ramadhan bulan ummat Saya. Barang siapa berpuasa di bulan Rajab dua hari, baginya pahala dua kali lipat, timbangan setiap lipatan itu sama dengan gunung gunung yang ada di dunia, kemudian disebutkan pahala bagi orang yang berpuasa empat hari, enam hari, tujuah hari, delapan hari, dan seterusnya, sampai disebutkan ganjaran bagi orang berpuasa lima belas hari.Hadits ini “Maudhu`” (Palsu). Dalam sanad hadits ini ada yang bernama Abu Bakar bin Al Hasan An Naqqaasy, dia perawi yang dituduh pendusta, Al Kasaaiy- rawi yang tidak dikenal (Majhul). Hadits ini juga diriwayatkan oleh pengarang Allaalaiy dari jalan Abi Sa`id Al Khudriy dengan sanad yang sama, juga Ibnu Al Jauziy nukilan dari kitab Allaalaiy.

1. حديث : من صام ثلاثة أيام من رجب, كتب له صيام شهر, من صام سبعة أيام من رجب, أغلق الله عنه سبعة أبواب من النار, ومن صام ثمانية أيام من رجب, فتح الله له ثمانية أبواب من الجنة, ومن صام نصف رجب حاسبه الله حسابا يسيرا.

Artinya : “Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan Rajab, sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh, barang siapa berpuasa tujuh hari Allah Subhana wa Ta`ala akan menutupkan baginya tujuh pintu neraka, barang siapa berpuasa delapan hari di bulan Rajab Allah Ta`ala akan membukakan baginya delapan pintu sorga, siapapun yang berpuasa setengah dari bulan Rajab itu Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah sekali.”Diterangkan di dalam kitab Allaalaiy setelah pengarangnya meriwayatkannya dari Abaan kemudian dari Anas secara Marfu` : Hadits ini tidak Shohih, sebab Abaan adalah perawi yang ditinggalkan, sedangkan `Amru bin Al Azhar pemalsu hadits, kemudian dia jelaskan : Dikeluarkan juga oleh Abu As Syaikh dari jalan Ibnu `Ulwaan dari Abaan, adapun Ibnu `Ulwaan pemalsu hadits.2. حديث : إن شهر رجب شهر عطيم. من صام منه يوما كتب له صوم ألف سنة – إلخ.
Artinya : “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang mulia. Barang siapa berpuasa satu hari di bulan tersebut berarti sama nilainya dia berpuasa seribu tahun-dan seterusnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahin dari `Ali secara Marfu`. Dan dijelaskan dalam kitab Allaalaiy : Hadits ini tidak Shohih, sedangkan Haruun bin `Antarah selalu meriwayatkan hadits-hadits yang munkar.

3. حديث : من صام يوما من رجب, عدل صيام شهر-إلخ
Artinya : “Barang siapa yang berpuasa di bulan Rajab satu hari sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh dan seterusnya”.

Diriwayatkan oleh Al Khathiib dari jalan Abi Dzarr Marfu`. Di sanadnya ada perawi : Al Furaat bin As Saaib, dia ini perawi yang ditinggalkan.

Berkata Al Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya “Al Amaaliy” : sepakat diriwayatkan hadist ini dari jalan Al Furaat bin As Saaib- dia ini lemah- Rusydiin bin Sa`ad, dan Al Hakim bin Marwaan, kedua perawi ini lemah juga.

Sesungguhnya Al Baihaqiy juga meriwayatkan hadits ini di kitabnya : “Syu`abul Iman” dari hadits Anas, yang artinya : “Siapapun yang berpuasa satu hari di bulan Rajab sama nilainya dia berpuasa satu tahun.” Di menyebutkan hadits yang sangat panjang, akan tetapi di sanad hadits ini juga ada perawi ; `Abdul Ghafuur Abu As Shobaah Al Anshoriy, dia ini perawi yang ditinggalkan. Berkata Ibnu Hibbaan : “Dia ini termasuk orang orang yang memalsukan hadits”.

4. حديث : من أحيا ليلة من رجب, وصام يوما. أطعمه الله من ثمار الجنة – إلخ.
Artinya : “Barang siapa yang menghidupkan satu malam bulan Rajab dan berpuasa di siang harinya, Allah Ta`ala akan memberinya makanan dari buah buahan sorga- dan seterusnya.”

Diriwayatkan dalam kitab Allaalaiy dari jalan Al Husain bin `Ali Marfu`: Berkata pengarang kitab : Hadits ini Maudhu` (palsu).

5. ديث : أكثروا من الاستغفار فى شهر رجب. فإن لله فى كل ساعة منه عتقاء من النار, وإن لله لا يدخلها إلا من صام رجب.
Artinya : “Perbanyaklah Istighfar di bulan Rajab. Sesungguhnya Allah Ta`ala membebaskan hamba hambanya setiap sa`at di bulan itu, dan Sesungguhnya Allah Ta`ala mempunyai kota kota di Jannah-Nya yang tidak akan dimasuki kecuali oleh orang yang berpuasa di bulan itu.

Dikatakan dalam “Adz dzail” : Dalam sanadnya ada rawi namanya Al Ashbagh : Tidak bisa dipercaya.

6. حديث : فى رجب يوم وليلة, من صام ذلك اليوم, وقام تلك الليلة. كان له من الأجر كمن صام مائة-إلخ.
Artinya : “Di bulan Rajab ada satu hari dan satu malam, siapapun yang berpuasa di hari itu, dan mendirikan malamnya. Maka sama nilainya dengan orang yang berpuasa seratus tahun dan seterusnya.

Dikatakatan dalam “Adz dzail” : Di dalam sanadnya ada nama rawi Hayyaj, dia adalah rawi yang ditinggalkan.

Dan demikian disebutkan tentang : “Berpuasa satu hari atau dua hari di bulan itu.”

Disebutkan juga dalam “Adz dzail : Sanad hadits ini penuh dengan kegelapan sebahagian atas sebahagian lainnya, di dalam sanadnya ada perawi perawi yang pendusta : Dan demikian diriwayatkan : “Bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkhutbah pada hari jum`at sepekan sebelum bulan Rajab. Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata : “Hai sekalian manusia! Sesungguhnya akan datang kepada kalian satu bulan yang mulia. Rajab bulan adalah bulan Allah yang Mulian, dilipat gandakan kebaikan di dalamnya, do`a do`a dikabulkan, kesusahan kesusahan akan di hilangkan.” Ini adalah Hadist yang Munkar.

Dan dalam hadits yang lain : “Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, dan mendirikan satu malam dari malam malamnya, maka Allah Tabaraka wa Ta`ala akan membangkitkannya dalam keadaan aman nanti di hari Kiamat- dan seterusnya.”

Di dalam sanad hadits ini : Kadzaabun (para perawi pendusta).

Demikian juga hadits : “Barang siapa yang menghidupkan satu malam di bulan Rajab, dan berpuasa di siang harinya: Allah akan memberikan makanan buatnya buah buahan dari Sorga- dan seterusnya.”

Didalam sanadnya : Para perawi pembohong/pemalsu hadits.

Demikian juga hadits : “Rajab bulan Allah yang Mulia, dimana Allah mengkhususkan bulan itu buat diri-Nya. Maka barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharapkan Ridho Allah, dia akan dimasukan ke dalam Jannah Allah Ta`ala- dan seterusnya.”

Didalam sanadnya : Para perawi yang ditinggalkan.

Demikian juga hadits : “Rajab bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam, Ramadhan bulan ummat Saya.” Demikian juga hadits : “Keutamaan bulan Rajab di atas bulan bulan lainnya ialah : seperti keutamaan Al Quran atas seluruh perkataan perkataan lainnya- dan seterusnya.”
Berkata Al Imam Ibnu Hajar : Hadits ini Palsu.
Berkata `Ali bin Ibraahim Al `Atthor dalam satu risalahnya : “Sesungguhnya apa apa yang diriwayatkan tentang keutamaan tentang puasa di bulan Rajab, seluruhnya Palsu dan Lemah yang tidak ada ashol sama sekali. Berkata dia : “`Abdullah Al Anshoriy tidak pernah puasa di bulan Rajab, dan dia melarangnya, kemudian berkata : “Tidak ada yang shohih dari Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam satupun hadist mengenai keutamaan bulan Rajab.” Kemudian dia berkata : Dan demikian juga : “Tentang amalan amalan yang dikerjakan pada bulan ini : Seperti mengeluarkan Zakat di dalam bulan Rajab tidak di bulan lainnya.” Ini tidak ada ashol sama sekali.

Dan demikian juga, “Dimana penduduk Makkah memperbanyak `Umrah di bulan ini tidak seperti bulan lainnya.” Ini tidak ada asal sama sekali sepanjang pengetahuan saya. Dia berkata : “Diantara yang diada-adakan oleh orang yang `awwam ialah : “Berpuasa di awal kamis di bulan Rajab,” yang keseluruhannya ini adalah : Bid`ah.

Dan diantara yang mereka ada adakan juga di bulan Rajab dan Sya`ban ialah : “Mereka memperbanyak ketaatan kepada Allah melebihi dari bulan bulan lainnya.”

Adapun yang diriwayatkan tentang : “Bahwa Allah Ta`ala memerintahkan Nabi Nuh `Alaihi wa Sallam untuk membuat kapalnya di bulan Rajab ini, serta diperintahkan kamu Mu`minin yang bersama dia untuk berpuasa di bulan ini.” Ini Hadits Maudhu` (Palsu).

Diantara bid`ah-bid`ah yang menyebar di bulan ini adalah :
1. Sholat Ar Raghaaib.
Sholat Ar Raghaaib ini diamalkan di setiap awal Jum`at di bulan Rajab.

Ketahuilah semoga Allah Tabaraka wa Ta`ala merahmatimu- bahwa mengagungkan hari ini, malam ini sesungguhnya diadakan ke dalam Din Islam ini setelah abad keempat Hijriyah. (Lihat literatur berikut ini tentang bid`ahnya sholat Raghaib :
1. “Iqtida` As Shiratul Mustaqim” : hal.283. Dan “Tulisan Ilmiyah diantara dua orang Imam ; Al `Izz bin `Abdus Salam dan Ibnu As Sholah sekitar Sholat Raghaaib.”
2. “Al Ba`itsu `Ala Inkari Al Bida` wa Al Hawaadist” : hal. 39 dan seterusnya.
3. “Al Madkhal” oleh Ibnu Al Haaj : 1/293.
4. “As Sunan wal Mubtadi`aat” : hal. 140.
5. “Tabyiinul `Ujab bima warada fi Fadhli Rajab” : hal. 47.
6. “Fataawa An Nawawiy” : hal. 26.
7. “Majmu` Al Fataawa oleh Ibnu Taimiyah” : 2/2.
8. “Al Maudhuu`aat” : 2/124.
9. “Allaalaaiy Al mashnu`ah” : 2/57.
10. “Tanzihus Syari`ah” : 2/92.
11. “Al Mughni `anil Hifdzi wal Kitab” : hall. 297- serta bantahannya : Jannatul Murtaab.
12. “Safarus Sa`adah” : hal. 150.

Sepakat `Ulama tentang hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai keutamaan bulan Rajab adalah palsu, sesungguhnya telah diterangkan oleh sekelompok Al Muhaditsin tentang palsunya hadits sholat Ar Raghaaib diantara mereka ialah : Al Haafidz Ibnu hajar, Adz Dzahabiy, Al `Iraaqiy, Ibnu Al Jauziy, Ibnu Taimiyah, An Nawawiy dan As Sayuthiy dan selain dari mereka. Kandungan dari hadits-hadits yang palsu itu ialraah mengenai keutamaan berpuasa pada hari itu, mendirikan malamnya, dinamakan “shalat Ar Raghaaib,” para ahli Tahqiiq dikalangan ahli ilmu telah melarang mengkhususkan hari tersebut untuk berpuasa, atau mendirikan malamnya melaksanakan sholat dengan cara yang bid`ah ini, demikian juga pengagungan hari tersebut dengan cara membuat makanan makanan yang enak-enak, mengishtiharkan bentuk bentuk yang indah indah dan selain yang demikian, dengan tujuan bahwa hari ini lebih utama dari hari hari yang lainnya.

2. Sholat Ummu Daawud di pertengahan bulan Rajab.

Demikian juga hari terakhir dipertengahan bulan Rajab, dilaksanakan sholat yang dinamakan sholat “Ummu Daawud” ini juga tidak ada asholnya sama sekali. “Iqtidaus Shiraatul Mustaqim” : hal. 293.

Berkata Al Imam Al Hafidz Abu Al Khatthaab : “Adapun sholat Ar Raghaaib, yang dituduh sebagai pemalsu hadits ini ialah : `Ali bin `Abdullah bin jahdham, dia memalsukan hadits ini dengan menampilkan rawi rawi yang tidak dikenal, tidak terdapat diseluruh kitab.” Pembahasan Abu Al Khatthaab ini terdapat dalam :
“Al Baa`its `Ala Inkaril Bida` wal Ahadist” : hal. 40.
Abul Hasan : `Ali bin `Abdullah bin Al Hasan bin Jahdham, As Shufiy, pengarang kitab : “Bahjatul Asraar fit Tashauf”.
Berkata Abul Fadhal bin Khairuun : Dia pendusta.
Berkata selainnya : Dia dituduh sebagai pemalsu hadits sholat Ar Raghaaib.

Lihat terjemahannya dalam : “Al `Ibir fi Khabar min Ghubar.” : (3/116), “Al Mizan” : (3/142), “Al Lisaan” : (4/238), “Maraatul Jinaan” (3/28), “Al Muntadzim” : (8/14), “Al `Aqduts Tsamiin” : (6/179).

Asal daripada sholat ini sebagaimana diceritakan oleh : At Thurthuusyiy dalam “kitabnya” : “Telah mengkhabarkan kepada saya Abu Muhammad Al Maqdisiy, berkata Abu Syaamah dalam “Al Baa`its” : hal. 33 : “Saya berkata : Abu Muhammad ini perkiraan saya adalah `Abdul `Aziz bin Ahmad bin `Abdu `Umar bin Ibraahim Al Maqdisiy, telah meriwayatkan darinya Makkiy bin `Abdus Salam Ar Rumailiy As Syahiid, disifatkan dia sebagai As Syaikh yang dipercaya, Allahu A`lam.” Berkata dia: tidak pernah sama sekali dikalangan kami di Baitul Maqdis ini diamalkan sholat Ar Raghaaib, yaitu sholat yang dilaksanakan di bulan Rajab dan Sya`ban. Inilah bid`ah yang pertama kali muncul di sisi kami pada tahun 448 H, dimana ketika itu datang ke tempat kami di Baitil Maqdis seorang laki laki dari Naabilis dikenal dengan nama Ibnu Abil Hamraa`, suaranya sangat bagus sekali dalam membaca Al Quran, pada malam pertengahan (malam keenam belas) di bulan Sya`ban dia mendirikan sholat di Al Masjidil Aqsha dan sholat di belakangnya satu orang, lalu bergabung dengan orang ketiga dan keempat, tidaklah dia menamatkan bacaan Al Quran kecuali telah sholat bersamanya jama`ah yang banyak sekali, kemudian pada tahun selanjutnya, banyak sekali manusia sholat bersamanya, setelah itu menyebarlah di sekitar Al Masjidil Aqsha sholat tersebut, terus menyebar dan masuk ke rumah rumah manusia lainnya, kemudian tetaplah pada zaman itu diamalkan sholat tersebut yang seolah olah sudah menjadi satu sunnah di kalangan masyarakat sampai pada hari kita ini. Dikatakan kepada laki laki yang pertama kali mengada-adakan sholat itu setelah dia meninggalkannya, sesungguhnya kami melihat kamu mendirikan sholat ini dengan jama`ah. Dia menjawab dengan mudah : “Saya akan minta ampun kepada Allah Ta`ala.”

Kemudian berkata Abu Syaamah : “Adapun sholat Rajab, tidak muncul di sisi kami di Baitul Maqdis kecuali setelah tahun 480 H, kami tidak pernah melihat dan mendengarnya sebelum ini.” (Al Baa`itsu : hal. 32-33).

Fatwa Ibnu As Sholaah tentang sholat Ar Raghaaib, Malam Nishfu Sya`ban

3. Sholat Al Alfiah.
Sesungguhnya As Syaikh Taqiyuddin Ibnu As Sholaah rahimahullah Ta`ala pernah dimintai fatwa tentang hal ini, lalu beliau menjawab :
“Adapun tentang sholat yang dikenal dengan sholat Ar Raghaaib adalah bid`ah, hadits yang diriwayatkan tentangnya adalah palsu, dan tidaklah sholat ini dikenal kecuali setelah tahun 400 H, tidak ada keutamaan malamnya dari malam malam yang lainnya. Lihat Hadist hadist ini dalam kitab yang disebutkan di atas hal. 100-101, dan hal. 439-440.

Diterjemahkan dari kitab Al Fawaaid Al Majmu`ah, Al Ahadiits Al Maudhu`ah, karya Syaikhul Islam Muhammad Bin `Ali As Syaukaniy (Wafat : 1250 H)

(Dikutip dari website http://thullabul-ilmiy.or.id/modules/news/artikel.php?storyid=3, judul asli “Hadist-Hadist Palsu Mengenai Keutamaan Bulan Rajab.”, diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Al Mundzir As Salafiy.)